FIQIH THOHAROH

DISAMPAIKAN PADA ACARA “PONDOK RAMADHAN SMPN 1 LAMONGAN

DI PONPES ALMIZAN MUHAMMADIYAH LAMONGAN

BAB I

19 MASALAH PENTING TENTANG THAHARAH

YANG BERKAITAN DENGAN MASALAH SHALAT

 1. Epistemologi  Thaharah

          Apa definisi thaharah ? Dan mengapa bab Thaharah selalu didahulukan dalam pembahasan fiqh ? Cobalah anda buka kitab-kitab hukum semisal Bulughul Maram yang disusun oleh Al Imam Abu Fadhl Ahmad Bin Ali Ibnu  Hajar [Wafat :852 H], demikian juga  Al Wajiz, Ensiklopedi dalam Al Qur’an dan As Sunnah, oleh Syaikh ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi Al-Khalafi [salahsatu murid cerdas Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani], Al – Fiqhu Al-Islami Wa ‘adilatuhu, oleh Syaikh Wahbah Az Zuhaili, maupun Kitab Minhajul Muslim oleh Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi dan kitab-kitab fiqh yang lain niscaya akan anda dapati bahwa Bab Thaharah selalu didahulukan dalam pembahasan fiqh.

            Tentu saja hal ini mempunyai keistimewaan tersendiri yang diantaranya adalah karena thaharah [bersuci] merupakan salahsatu syarat sahnya shalat, padahal kita tahu shalat adalah rukun dari rukun Islam setelah dua kalimat syahadat. Jadi, syarat [sahnya shalat] tentu harus didahulukan [pembahasannya] daripada yang disyaratkan [yaitu shalat].

          Diantara pembahasan pertama dalam ranah thaharah adalah masalah aniyah [bejana-bejana], hal ini disebabkan karena air merupakan salahsatu benda yang berfungsi sebagai penyuci mesti ada tempat penampungnya. Kita dibolehkan menggunakan semua bentuk aniyah atau bejana-bejana tentu saja yang suci walaupun harganya mahal, kecuali bejana yang terbuat dari emas atau perak, baik yang murni maupun yang hanya sebagai campuran saja. Akan tetapi kalau campuran emas atau peraknya hanya sedikit saja, maka itu dibolehkan.

          Berdasarkan pada hadits Nabi r :

عَنْ حُذَيْفَةَ t أَنَّ النَّبِيَّ r قَالَ : لاَتَشْرَبُوا فِى آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلاَ تَلْبَسُوْا الحَرِيْرَ وَلاَ الذِّيْبَاجَ فَإِنَّهَا لَهُمْ فِيْ الدُّنْيَا وَلَنَا فِيْ الأخِرَةِ

          Dari Khuzaifah t bahwa Nabi r berkata : Janganlah kamu sekali-kali minum dengan benaja emas atau perak [murni] dan jangan pula kamu memakai sutera tipis, karena sesungguhnya itu untuk mereka [orang-orang kafir] di dunia saja dan bagi kita diakhirat kelak[1]
Begitu juga hadits dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah r bersabda :

عَنْ أمِّ سَلَمَةَ رضي الله عنها أَنَّ النَّبِيَّ r قَالَ : ألَّذِيْ يَشْرَبُ فِى إِنَاءِ الفِضَّةِ إِنَّمَا يُجَرْجِرُ فِى بَطْنِهِ نَارَ جَهَنَّمَ

          Dari Ummu Salamah r.a, bahwa Rasulullah r bersabda : Orang yang minum dengan bejana perak hanyalah memasukkan api jahannam ke dalam perutnya[2]

          Lalu apa definisi thaharah ? Thaharah secara bahasa artinya bersuci atau menghilangkan kotoran. Adapun secara syar’i ; menghilangkan najis atau kotoran dengan air atau debu [tanah] yang suci lagi mensucikan dengan tata cara yang telah ditentukan oleh syari’at[3]

          Diantara dalil-dalil yang sesuai dengan pernyataan diatas sebagai berikut ;

لِقَوْ لِ رسُولِ الله صلى الله عليه وسلم : مِفْتَاحُ الصَّلاَةِ الطَّهُوْرُ وَتَحْرِيْمُهَا التَّكْبِيْرُ وَتَحْلِيْلُهَا التَّسْلِيْمُ

          Kunci shalat adalah bersuci. Shalat diawali dengan membaca takbir dan diakhiri dengan membaca salam[4]

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنه قَالَ : سَمِعْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : لاَتُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طَهُوْرٍ

          Dari Ibnu Umar t ia berkata : “ Saya mendengar Nabi r bersabda: Tidak diterima shalat [yang dilaksanakan] tanpa bersuci [sebelumnya] [5]

            Thaharah terbagi menjadi dua ; thaharah dengan air, dan thaharah dengan debu/tanah. Thaharah dengan air meliputi wudhu dan mandi besar dan hal ini disyaratkan dengan air yang suci ; air yang suci dzatnya dan bisa digunakan untuk mensucikan.

            Firman Allah Y :

Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu)  {QS. Al Anfal : 11}

                Dan juga firman-Nya dalam QS. Al Furqan : 48 :

Dia lah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan kami turunkan dari langit air yang amat bersih,.

                Dengan demikian kita perlu untuk mengetahui, mana air yang suci dan mana air yang tidak suci [najis]. Kapan air itu menjadi tidak suci ? Air yang suci menjadi tidak suci apabila telah berubah warna, rasa, dan baunya disebabkan kemasukan benda yang najis. Sebagaimana sabda Rasulullah r :

وَعَنْ أبِيْ أُمامَةَ الْبَاهِلِيِّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رسُوْ لُ الله صلى الله عليه وسلم : إِنَّ المَاءَ لاَيُنَجِّسُهُ شَيْءٌ، إِلاَّ مَاغَلَبَ عَلَى رِيْحِهِ وَطَعْمِهِ وَلَوْنِهِ

Sesungguhnya air itu tidak bisa dinajiskan oleh apapun, kecuali oleh benda yang mengubah bau, rasa, dan warnanya [6]

          Al Baihaqi meriwayatkan dengan lafadz :

الْمَاءُ طَهُوْرٌ إِلاَّ إِنْ تَغَيَّرَ رِيْحُهُ أَوْطَعْمُهُ أَوْ لَوْنُهُ بِنَجَاسَةٍ تَحْدُثُ فِيْهِ

          Semua air itu suci, kecuali apabila telah berubah bau, rasa, dan warnanya dengan sebab kemasukan benda najis.

            Para ulama’ sepakat bahwa air banyak atau sedikit, apabila tercampur dengan benda najis kemudian berubah warna, rasa, atau baunya, maka air itu menjadi najis. Wallahu a’lam washallahu ala Muhammad.

          Selanjutnya, Bagaimana cara mensucikan air yang telah menjadi air najis ? Hal ini ada tiga cara ; pertama, Air yang najis itu hilang sendiri sifat-sifat kenajisannya. Kedua, Dengan cara menguras atau membuang semua air yang kena najis, dan menyisakan air yang suci. Ketiga, Dengan cara menambahkan air yang suci ke dalam air yang najis hingga hilang sifat-sifat air najis tersebut[7]

2. Perintah Berwudhu/Tayammum Sebelum Sholat :   

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub Maka mandilah, dan jika kamu sakit[403] atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh[404] perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. [QS. Al Maidah :6]

[403]  Maksudnya: sakit yang tidak boleh kena air.

[404]  artinya: menyentuh. menurut Jumhur ialah: menyentuh sedang sebagian Mufassirin ialah: menyetubuhi.

  1. 3.   Tata Cara Wudhu’ :

وَعَنْ حمُْرَانَ مَوْلَى عُثْماَنَ  اَنَّ عُثْمَانَ رَضِيَ الله ُعْنْهُ دَعَابِوُضُوْءٍ .فَتَوَضَّأَ  فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ تَمَضْمَضَ ، وَاسْتَنْشَقَ ، وَاسْتَنْثَرَ ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنىَ إِلىَ الْمِرْفَقِ، ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ اْليُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ اْليُمْنىَ إِلىَ اْلكَعْبَيْنِ  ثَلاَثَ مَرَّاتٍ  ثُمَّ غَسَلَ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ قاَلَ : رَأَيْتُ رَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلم تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوْئِيْ هَذَا ثُمَّ قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَوُضُوْئِى هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لاَيُحَدِّثُ فِيْهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ قَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَكَانَ عُلَمَاؤُنَا يَقُوْلُوْنَ هَذَا الوُضُوْءُ أََسْبَغُ مَايَتَوَضَّأُ بِهِ أَحَدٌ لِلصََلاَةِ

            Dari Humran bekas budak Utsman, bahwa Utsman bin Affant meminta air wudhu. (setelah dibawakan), ia berwudhu’ : Ia mencuci kedua telapak tangannya tiga kali, kemudian berkumur-kumur dan memasukkan air kedalam hidungnya, kemudian mencuci wajahnya tiga kali, lalu membasuh tangan kanannya sampai siku tiga kali, kemudian membasuh tangan kirinya tiga kali seperti itu juga, kemudian mengusap kepalanya lalu membasuh kakinya yang kanan sampai kedua mata kakinya tiga kali kemudian membasuh yang kiri seperti itu juga. Kemudian mengatakan : Saya melihat Rosululloh SAW (biasa) berwudhu seperti wudhuku ini lalu Rosululloh bersabda : Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini kemudian berdiri dan ruku’ dua kali dengan sikap tulus ikhlas, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Ibnu Syihab berkata : “ Adalah ulama’-ulama’ kita menegaskan, ini adalah cara wudhu yang PALING SEMPURNA yang [seharusnya] dipraktikkan setiap orang untuk sholat” [8]

  1. 4.   Syarat-syarat Sahnya Wudhu’
    1. 1.   Niat, berdasarkan Sabda Nabi r :

إِنَّمَاالأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ

            Sesungguhnya segala amal hanyalah tergantung pada niatnya[9]

Keterangan :

Tidak pernah disyariatkan melafadzkan niat karena tidak ada dalil yang shahih dari Nabi r yang menganjurkannnya.

  1. 2.   Mengucapkan Basmalah, karena ada hadits Nabi r :

لاَصَلاَةَ لِمَنْ لاَوُضُوْءَ لَهُ وَلاَوُضُوْءَ لِِمَنْ لَمْ يَذْكُرِاسْمَ اللهِ عَلَيْهِ

            Tidak sah sholat bagi orang yang tidak berwudhu (sebelumnya) dan tidak sah wudhu bagi orang yang tidak menyebut, Bismillah (sebelumnya)[10]

Keterangan :

    Disamping itu, ada dua riwayat lain yang menerangkan bahwa Rosululloh r bersabda : توضؤوا ببسم الله   [Berwudhu dengan (menyebut) nama Alloh. Lihat Nasa’i, kitab Thaharah no:61 bab : Mengucapkan basmalah ketika akan berwudhu, dan Musnad Imam Ahmad III : 165.

  1. 3.    Muwalah [Berturut-turut] tidak diselingi oleh pekerjaan lain,

Berdasarkan hadits Khalid bin Ma’dan :

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم رَأَى رَجُلاً يُصَلِّى وَفِى ظُهْرِ قَدَمِهِ لُمْعَةُ قَدْرِ الدِّرْهَمِ لِمَ يُصِبْهَا الْمَاءُ : فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَنْ يُعِيْدَ الوُضُوْءَ وَالصَّلاَةَ

            Bahwa Nabi r pernah melihat seorang laki-laki tengah mengerjakan sholat, sedang dipunggung kakinya ada sebesar uang dirham yang tidak tersentuh air wudhu, maka Nabi SAW menyuruhnya agar mengulangi wudhu dan sholatnya [11]

5. Hal-hal Yang Fardhu/Najis Dalam Wudhu’ :

  1. Membasuh wajah termasuk berkumur-kumur dan membersihkan hidung
  2. Mencuci kedua tangan sampai siku-siku
  3. Mengusap seluruh kepala, dan kedua telinga termasuk bagian dari kepala
  4. Membasuh kedua kaki hingga kedua mata kaki hal ini sesuai dengan firman Alloh dalam QS. Al Maidah : 6 [lihat perintah berwudhu/tayammmum sebelum sholat]

Adapun berkumur-kumur dan istinsyaq [memasukkan air kedalam hidung] termasuk bagian dari muka sehingga wajib dilakukan karena Alloh Ta’ala telah memerintahkan di dalam kitabNya yang mulia membasuh muka. Disamping itu, telah sah dari Nabi r, beliau telah terus menerus melakukan kumur dan istinsyaq setiap kali berwudhu. Sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh seluruh sahabatnya yang meriwayatkan dan menerangkan tata cara wudhu Nabi r, sehingga secara keseluruhan menunjukkan bahwa membasuh wajah yang diperintahkan di dalam Al Qur’an meliputi berkumur-kumur dan istinsyaq (As-Sailal Jarrar I :81)

Lagi pula ada sabda Nabi r yang memerintah berkumur-kumur dan istinsyaq memasukkan air ke dalam hidung)

إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَجْعَلْ فِى نَفِهِ مَاءً ثُمَّ لَيَسْتَنْشِرْ

Apabila seorang diantara kamu berwudhu, maka masukkanlah air ke dalam hidungnya, lalu keluarkanlah ! [12]

            Dan sabda Beliau r yang lain :

وَبَالِغْ فِى الإِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ صَائِمًا

Bersungguh-sungguhlah dalam melakukan istinsyaq, kecuali sedang berpuasa[13]

            Dalam hadits yang lain, Beliau r bersabda juga :

إِذَا تَوَضَّأْتَ فَمَضْمِضْ

Apabila kamu berwudhu’, maka hendaklah berkumur-kumur [14]

            Adapun tentang wajibnya mengusap kepala, yaitu karena perintah mengusap kepala di dalam Al Qur’an bersifat mujmal (global), maka bayan (penjelasannya) dikembalikan kepada sunnah Nabi r. Sudah tegas didalam riwayat Bukhori, Muslim dan selain keduanya bahwa nabi r mengusap seluruh kepalanya. Dan dalam hal ini terdapat dalil yang tegas yang menunjukkan wajibnya mengusap seluruh kepala secara sempurna.

          Jika ada yang berpendapat, bahwa ada riwayat yang shahih dari Al Mughirah, bahwa Nabi pernah mengusap ubun-ubunnya dan diatas surbannya ?

          Maka jawabannya : Rasulullah r mencukupkan mengusap diatas ubun-ubunnya, karena beliau menyempurnakan dengan mengusap sisa kepalanya diatas surbannya. Dan Syaikh ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi Al-Khalafi – Penyusun Kitab Al Wajiz – berpendapat demikian dan didalam kitab Al Mughirah tersebut tidak terdapat syarat yang menunjukkan bolehnya mengusap hanya diatas ubun-ubun saja atau sebagian kepala saja tanpa menyempurnakan di atas surbannya [Lihat Tafsir Ibnu Katsir II:24 dengan sedikit perubahan redaksi]

          Wal hasil, wajib mengusap kepala. Pengusap kepala jika mau boleh, mengusap diatas kepala saja atau diatas surban saja atau diatas kepala dan dilanjutkan diatas surban, ketiga cara tersebut shahih dan kuat (pernah dilakukan oleh Nabi r)

          Adapun perihal dua telinga termasuk bagian dari kepala sehingga wajib pula diusap berdasarkan pada sabda Nabi r :

الأُذُنَانِ مِنَ الرَّأْسِ

            Dua telinga termasuk kepala[15]

Menyela-nyelakan air pada jenggot

عَنْ أَنَسْ بِنْ مَالِكِ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا تَوَضَّأَ أَخَذَ كَفَّامِنْ مَاءٍ فَأَدْخَلَهُ تَحْتَ حَنْكِهِ فَخَلَّلَ بِهِ لِحْيَتَهُ وَقَالَ : هَكَذَا أَمَرَنِيْ رَبِّيْ عَزَّ وَجَلَّ

            Dari Anas bin Malik r.a bahwa Rosululloh r apabila berwudhu, mengambil segenggam air, lalu memasukkannya kebelakang dagu, kemudian menyela-nyelakan diantara jenggotnya, seraya bersabda, “ Beginilah yang Rabbku Azza Wa Jalla perintahkan kepadaku” [16]

 Menyela-nyela air pada jari-jemari tangan dan kaki .

Sebagaimana yang ditegaskan dibawah ini :

قَوْلُهُ صلى الله عليه وسلم : أَسْبِغِ اْلوُضُوْءَ، وَخَلِّلْ بَيْنَ الأَصَابِعِ، وَبَالِغْ فِى الإِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ صَائِمًا

      Rosululloh r, sempurnakanlah wudhu’ dan sela-selakanlah [air] di antara jari-jemari dan bersungguh-sungguhlah dalam melakukan intinsyaq kecuali kamu dalam keadaan puasa[17]

6. Sunnah-sunnah Wudhu’ : [Hal-hal Yang Disunnahkan Ketika Berwudhu’]

  1. Siwak sebagaimana yang diriwayatkan

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم : لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ وُضُوْءٍ

          Dari Abu Hurairah t bahwa Rasulullah r bersabda : Kalaulah sekiranya aku tidak [khawatir] akan memberatkan umatku, niscaya kuperintahkan mereka bersiwak setiap kali wudhu’[18]

  1. Mencuci kedua telapak tangan tiga kali pada awal wudhu’ sebagaimana yang telah diriwayatkan dari Utsman bin Affan r.a yang mengisahkan wudhu’ Nabi r dimana dia membasuh kedua telapak tangannya tiga kali [Lihat masalah tata cara Wudhu pada halaman sebelumnya]
  2. Kumur-kumur dan intinsyaq sekaligus, tiga kali :

عَنْ عَبْدِ اللهِ بِنْ زَيْدٍ رضي الله عنه فِى تَعْلِيْمِهِ لِوُضُوْءِ رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ مِنْ كَفٍّ وَاحِدَةٍ فَفَعَلَ ذَلِكَ ثَلاَثًا

Dari Abdulloh bin Zaid t tentang dia mengajarkan [tata cara] wudhu’ Rosululloh SAW, dimana dia berkumur-kumur dan intinsyaq dari satu telapak tangan. Dia berbuat demikian [sebanyak] tiga kali[19] Bersungguh-sungguh dalam berkumur-kumur dan istinsyaq : kecuali bagi orang yang berpuasa, berdasarkan Nabi r :

Bersungguh-sungguhlah dalam melakukan intinsyaq kecuali kamu dalam keadaan puasa [20]

  1. Mendahulukan anggota wudhu’ yang kanan daripada yang kiri karena ada hadits Aisyah r.a. yang mengatakan :

كَانَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم يُحِبُّ التَّيَامُنَ فِى تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُوْرِهِ وَفِى شَأْنِهِ كُلِّهِ

          Adalah Rasulullah r mencintai mendahulukan anggota yang  kanan dalam hal mengenakan alas kaki, menyisir, bersuci, dan dalam seluruh ihwalnya [21]

          Disamping itu hadits Ustman t yang menceritakan tata cara wudhu’ Nabi r dimana dia membasuh anggota yang kanan, lalu yang kiri.

  1. Menggosok karena ada hadits Abdulloh bin Zaid yang mengatakan :

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أُتِيَ بِثُلُثِي مُدٍّ فَتَوَضَّأَ فَجَعَلَ يَدْلُكُ ذِرَاعَيْهِ

          Bahwa Nabi r pernah dibawakan 2/3 mud (air), kemudian beliau berwudhu, maka beliaupun menggosok kedua hastanya[22]

 Membasuh tiga kali, tiga kali, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Utsman bin Affan t (pada awal pembahasan wudhu) bahwa Nabi berwudhu tiga kali, tiga kali, namun ada juga riwayat yang sah yang mengatakan :

أَنَّهُّ صلى الله عليه وسلم تَوَضَّأَ مَرَّةً مَرَّةً وَمَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ

          Bahwa Nabi r pernah berwudhu satu kali-satukali dan dua kali-kali [23]

          Dianjurkan pula kadang-kadang mengusap kepala lebih dari sekali (tiga kali) karena ada riwayat :

عَنْ عُثْمَانَ أَنَّهُ تَوَضَّأَ فَمَسَحَ رَأْسَهُ ثَلاَثًا وَقَالَ : رَأَيْتُ رَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلم تَوَضَّأَ هَكَذَا

          Dari Utsman bin Affan t bahwa ia pernah mengusap kepalanya tiga kali seraya berkata, : Saya pernah melihat Rasulullah SAW berwudhu (dengan mengusap kepala) begini [24]

 Tertib, karena kebanyakan cara wudhu’ Rasulullah r selalu dengan tertib sebagaimana yang telah disampaikan sejumlah sabahat yang meriwayatkan wudhu’ beliau r. Akan tetapi, ada riwayat yang sah dari al-Miqdam bin Ma’dikariba ia berkata :

أَنَّهُ أُتِيَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم بِوُضُوْءٍ فَتَوَضَّأَ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلاَثًا وَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا ثُمَّ غَسَلَ ذِرَاعَيْهِ ثَلاَثًا ثَلاَثًا ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ ثَلاَثًا ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ وَأُذُنَيْهِ

Bahwa Rasulullah SAW pernah dibawakan air wudhu, lalu beliau berwudhu membasuh kedua telapak tangannya tiga kali dan membasuh wajahnya tiga kali, kemudian membasuh kedua hastanya tiga kali, kemudian berkumur-kumur dan mengeluarkan air yang telah dimasukkan ke dalam hidung tiga kali, kemudian mengusap kepalanya dan dua telinganya [25]

 Berdo’a sesudah wudhu’. Sebagaimana yang dijelaskan dalam sabda Nabi r berikut :

مَامِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأَ فَيُسْبِغُ الْوُضُوْءَ ثُمَّ يَقُوْلُ أَشْهَدُ أَنْ لاَّإِلَهَ إِلاَّ الله ُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ إِلاَّ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةَ يَدْ خُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ

Tak seorangpun diantara kalian yang berwudhu’ dengan sempurna lalu mengucapkan (doa) ‘ ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAHU WAHDAHUU LAA SARIIKA LAH, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASUULUH [ Aku bersaksi bahwa tiada ilah (yang patut diibadahi) kecuali Alloh semata tiada sekutu bagi-Nya ; dan aku bersaksi, bahwa Muhammad hamba dan Rosul-Nya] melainkan pasti dibukalah baginya pintu-pintu surga yang delapan, ia boleh masuk dari pintu mana saja yang dikehendakinya [26]

     Kemudian Imam Tirmidzi menambahkan :

أَللَّهُمَّ اجْعَلْنِى مِنَ التَّوَابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

ALLAAHUMMAJ ‘ALNII MINAT TAWWAABIINA WAJ’ALNII MINAL MUTATHAHIRIIN [Ya, Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang tekun bertaubat dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang rajin bersuci][27]

  1. Dan dari  Abu Sa’id al-Khudri t bahwasannya Nabi r bersabda :

       “ Barangsiapa berwudhu lalu berdo’a :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّاِلَهَ اِلاَّ أََنْتَ أًَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

            Maha suci Engkau ya Alloh dan segala puji bagi-Mu aku bersaksi bahwasannya tiada sesembahan yang sebenarnya kecuali Engkau, aku mohon ampunan dan bertaubat pada-Mu Niscaya dicatat pada sebuah lembaran kemudian dicetak dengan sebuah cetakan lalu tidak dipecahkan hingga hari kiamat [28]

Catatan :

            Tidak ada hadits shahih mengenai do’a (bacaan-bacaan) ketika sedang berwudhu’

  1. Shalat dua rakaat sesudah wudhu’

            Hal ini didasarkan pada pernyataan Utsman bin Affan t sesudah mengajar sahabat yang lain tentang wudhunya Nabi r

رَأَيْتُ رَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلم تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوْئِيْ هَذَا ثُمَّ قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَوُضُوْئِى هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لاَيُحَدِّثُ فِيْهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Saya melihat Rasulullah r (biasa) berwudhu seperti wudhuku ini lalu Rosululloh bersabda : Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini kemudian berdiri dan ruku’ dua kali dengan sikap tulus ikhlas, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu[29]

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ لِبِلاَلٍ عِنْدَ صَلاَةِ الْفَجْرِ : يَابِلاَلُ أَخْبِرْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِى الإِسْلاَمِ فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِى الْجَنَّةِ قَالَ مَاعَمِلْتُ عَمَلاً أَرْجَى عِنْدِي أَنِّيْ لَمْ أَطْهُرْ طَهُوْرًا فِى سَاعَةٍ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُوْرِ مَاكُتِبَ لِيْ أَنْ أُصَلِّيَ

          Dari Abu Hurairah r.a bahwa Nabi r bertanya kepada Bilal usai sholat subuh, “ Ya Bilal, beritahukan kepadaku suatu amal yang paling memberi harapan yang engkau kerjakan dalam Islam karena sesungguhnya aku mendengar suara kedua alas kakimu dihadapanku disurga ? “ Jawabnya : “ Tidak ada amalan yang lebih kuharapkan [kecuali] bahwa setiap kali aku selesai bersuci baik pada waktu malam ataupun siang pasti aku selalu shalat seberapa kemampuanku untuk sholat” [30]

7. Hal-hal Yang Membatalkan Wudhu’

    1. Apa saja yang keluar dari kemaluan dan dubur, berupa kencing, berak, atau kentut.

Allah U berfirman :

÷rr& uä!%y` Ӊtnr& Nä3YÏiB z`ÏiB ÅÝͬ!$tóø9$# …ÇÏÈ

Atau kembali dari tempat buang air ..{Al Maidah : 6}

                Dan Nabi r bersabda :

لاَيَقْبَلُ الله ُ صَلاَةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ فَقَالَ : رَجُلٌ مِنْ حَضْرَمَوْتَ مَاالْحَدَثُ يَا أَبَاهُرَيْرَةَ قَالَ فُسَاءٌ أَوْ ضُرَاطٌ

            Alloh tidak akan menerima sholat seseorang diantara kamu yang berhadats sampai ia berwudhu [sebelumnya]. Maka seorang sahabat dari negeri Hadramaut bertanya : “ Apa yang dimaksud hadats itu wahai Abu Hurairah ? “ Jawabnya, “ Kentut lirih maupun kentut keras “ [31]

            Demikian pula madzi dan wadi : membatalkan wudhu’,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنه قَالَ : اَلْمَنِيُّ وَالْوَدِيُّ والْمَذِيُّ أَمَّاَالْمَنِيُّ فَهُوَ الَّذِيْ مِنْهُ الْغُسْلُ، وَأَمَّاالوَدِيُّ وَالْمَذِيُ فَقَالَ : إِغْسِلْ ذَكَرَكَ أَوْمَذَاكِيْرَكَ وَتَوَضَّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ

            Dari Ibnu Abbas t, ia berkata, “ Mani, wadi, dan madzi [termasuk hadats]. Adapun mani, cara bersuci darinya harus dengan mandi besar. Adapun wadi dan madzi, maka dia berkata, “ Cucilah dzakarmu, kemaluanmu, kemudian berwudhulah sebagaimana kamu berwudhu untuk sholat”[32]

    1. Tidur pulas sampai tidak tersisa sedikitpun kesadarannya, baik dalam keadaan duduk yang mantap diatas tanah ataupun tidak.

Karena ada hadits Shafwan bin Assal, ia berkata :

كَانَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُنَا سَفَرًا أَنْ لاَّنَنْزِعَ خَفَافَنَا ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيَهُنَّ، إِلاَّ مِنْ جَنَابَةٍ، لَكِنْ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ

            Adalah Rasulullah t pernah menyuruh kami, apabila kami melakukan safar agar tidak melepaskan khuf kami [selama] tiga hari tiga malam, kecuali karena janabat akan tetapi [kalau] karena buang air besar atau kecil ataupun karena tidur [pulas maka cukup berwudhu][33]

            Pada hadits ini Nabi r menyamakan antara tidur nyenyak dengan kencing dan berak [sebagai pembatal wudhu]

عَنْ عَلِّى رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم : اَلْعَيْنُ وَكَاءُ السَّهِ فَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ

            Dari Ali t bahwa Rasulullah r bersabda : “ Mata adalah pengawas dubur-dubur ; maka barangsiapa yang tidur [nyenyak], hendaklah berwudhu’ [34]

            Yang dimaksud kata al-wika’ ialah benang atau tali yang digunakan untuk menggantung peta.

          Sedangkan kata “as-sah” (السه ) artinya : ‘dubur’ maksudnya ‘yaqzhah’ [jaga, tidak tidur] adalah penjaga apa yang bisa keluar dari dubur, karena selama mata terbuka maka pasti yang bersangkutan merasakan apa yang keluar dari duburnya [35]

    1. Hilangnya kesadaran akal karena mabuk atau sakit. Karena kacaunya pikiran disebabkan dua hal ini jauh lebih berat daripada hilangnya kesadaran karena tidur nyenyak.
    2. Memegang kemaluan tanpa alas karena dorongan syahwat, berdasarkan sabda Nabi r :

مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ

            Barangsiapa yang memegang kemaluannya, maka hendaklah berwudhu’[36]

Keterangan :

          Dalam masalah ini memang ada juga hadits :

وعن طلق بن علي رضي الله عنه قال : قال رجل مست ذكري اوقال : الرجل يمس ذكره فى الصلاة ، اعليه الوضوء ؟ فقال النبي صلى الله عليه وسلم لا إنماهو بضعة منك (اخرجه الخمسة وصححه إبن حبان)

          Dari Thalq bin Ali t berkata : ada seorang laki-laki yang berkata : aku telah menyentuh kemaluanku, atau seseorang menyentuh kemaluannya diwaktu sholat apakah ia wajib wudhu ? Maka Nabi r bersabda : Tidak, karena ia [kemaluan] bagian dari tubuhmu.

          Menurut hemat penulis, untuk mengkompromikan dua hadits yang sepertinya bertentangan diatas  bisa disimpulkan sebagai berikut :

  1. Jika seseorang menyentuh kemaluannya atas dorongan syahwat/ada niat untuk merangsangnya, maka batallah wudhu’nya, akan tetapi ;
  2. Jika seseorang menyentuh kemaluannya BUKAN atas dorongan syahwat/TIDAK ADA niat untuk merangsangnya [gatal misalnya,] maka wudhu’nya tidak batal.

[Lihat juga Tamamul Minnah hal :103]

    1. Makan daging unta sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Bara’ bin ‘Azib t ia berkata : ]

قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم : تَوَضَّئُوا مِنْ لُحُوْمِ الإِبِلِ وَلاَ تَوَضَّئُوْا مِنْ لُحُوْمِ الْغَنَمِ

          Rasulullah t bersabda, Berwudhulah disebabkan [makan] daging unta, namun jangan berwudhu’ disebabkan [makan] daging kambing![37]

عَنْ جَابِرٍ بِنْ سَمْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَّ ىصلى الله عليه وسلم أَ أَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُوْمِ الْغَنَمِ ؟ قَالَ : إِنْ شِئْتَ تَوَضَّأْ وَإِنْ شِئْتَ لاَتَتَوَضَّأْ، قَالَ : أَتَوَضَّأ مِنْ لُحُوْمِ الإِبِلِ ؟ قَالَ : نَعَمْ : تَوَضَّأ مِنْ لُحُوْمِ الإِبِلِ

        Dari Jabir bin Samurah t bahwa ada seorang sahabat bertanya kepada Nabi r, apakah saya harus berwudhu [lagi] disebabkan makan daging kambing ? Jawab beliau : Jika dirimu mau, silahkan berwudhu ; jika tidak, jangan berwudhu [lagi]. Dia bertanya lagi :”Apakah saya harus berwudhu [lagi] disebabkan makan daging unta ? “ Jawab beliau, Ya berwudhulah karena [selesai makan] daging unta “ {Shahih Mukhtasar Muslim no: 146dan Muslim I:275 no: 360}

8. Hal-hal Yang Karenanya Diwajibkan Berwudhu’

    1. Shalat, karena Allah Y berfirman :

          $pkš‰r’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä #sŒÎ) óOçFôJè% ’n<Î) Ío4qn=¢Á9$# (#qè=Å¡øî$$sù öNä3ydqã_ãr

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu {QS. Al Maidah : 6}

                Selain itu, ada juga sabda Nabi r :

          Allah Y tidak akan menerima sholat [yang dilakukan] tanpa bersuci [sebelumnya] {Shahih : Mukhtashar Muslim no: 104, Muslim 1: 204 no: 224 dan Tirmidzi I:3 no: 1}

2. Thawaf di Baitulllah, berdasarkan sabda Nabi r :

الطَّوَافُ بِاْلبَيْتِ صَلاَةٌ إِلاَّ أَنَّ الله َ أَحَلَّ فِيْهِ الكَلاَمَ

          Thawaf di baitulloh adalah shalat, hanya saja Allah membolehkan berbicara {Shahih : Shahihul Jamius Shaghir no: 3954 dan Tirmidzi II:217 no: 967}

9. Hal-hal Yang Didalamnya Dianjurkan Berwudhu’

  1. Berdzikir kepada Allah Y, sebagaimana yang dijelaskan dalam riwayat berikut ini :

عَنْ المُهَاجِرِ بِنْ قُنْفُذٍ أَنَّهُ سَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ يَتَوَضَّأ فَلَمْ يَرَدَّ عَليهِ حَتَّى تَوَضَّأَ فَرَّدَ عَليْهِ وَقَالَ : إِنَّهُ لَمْ يَمْنَعْنِيْ أَنْ أَرُدَّ عَلَيْكَ إِلاَّ أَنِّيْ كَرِهْتُ أَنْ أَذْكُرَ الله َ إِلاَّ عَلَى طَهَارَةٍ

          Dari Al muhajir bin Qunfudz bahwa ia pernah mengucapkan salam kepada Nabi r pada waktu beliau sedang berwudhu’, maka beliau tidak menjawabnya sebelum selesai berwudhu’, setelah wudhu’ beliau menjawabnya seraya bersabda : “ Sesungguhnya tiada yang menghalangiku untuk menjawab salammu, karena aku tidak ingin menyebut [nama] Alloh kecuali dalam keadaan suci {Shahih : Shahih Ibnu Majah no: 280, Ibnu Majah : I 126 no: 350, ‘Aunul Ma’bud I:34 no: 17, Nasa’i I:37 namun bagi Imam Nasa’i tidak ada yang marfu’}

  1. Hendak Tidur, Sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Bara’ bin ‘Azib t, ia berkata :

قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا أَتَيْتَ مَضْجِعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ ثُمَّ قُلِ اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِيْ إِلَيْكَ وَوَجَّهْتُ وَجْهِيْ إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ وَالْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ لاَمَلْجَأَ وَلاَمَنْجَى مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ وَنَبِيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ فَإِنْ مُتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ فَأَنْتَ عَلىَ الْفِطْرَةِ وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَاتَتَكَلَّمُ بِهِ

          Nabi t bersabda, “ Apabila kamu hendak tidur maka berwudhu’lah seperti wudhumu untuk sholat, kemudian berbaringlah diatas lambungmu yang kanan lalu ucapkanlah :      اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِيْ إِلَيْكَ وَوَجَّهْتُ وَجْهِيْ إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ وَالْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ لاَمَلْجَأَ وَلاَمَنْجَى مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ  وَنَبِيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ  (Ya Alloh kuserahkan diriku kepadaMu, kuhadapkan wajahku kepada Mu kupasrahkan seluruh urusanku kepada-Mu kusandarkan punggungku kepada-Mu karena cinta dan takut kepada-Mu tiada tempat bersandar dan tiada pula tempat berlari dari-Mu kecuali kepada-Mu [jua] ;Ya Alloh aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus). Maka jika kamu meninggal dunia pada malam itu niscaya kamu meninggal dalam keadaan fitrah, dan jadikanlah do’a ini sebagai penutup perkataanmu {Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari XI: 109 no: 6311 dan Muslim IV:2081 no: 2710}

  1. Orang yang junub, bila hendak makan, minum, tidur, atau hendak mengulangi jima’. :

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ : كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم : إِذَا كَانَ جُنُبًا فَأَرَادَ أَنْ يَأْكُلَ أَوْ يَنَامَ تَوَضَّأَ وُضُوْءَهُ لِلصَّلاَةِ

          Dari Aisyah r.a. ia berkata : Adalah Nabi r apabila junub, lalu bermaksud hendak makan atau hendak tidur, beliau berwudhu’ seperti wudhu’ untuk sholat (Shahih:Mukhtasharu Muslim no: 162, Muslim I:248 no:22 dan 305. Nasa’i I:138, ‘Aunul Ma’bud I: 374 no: 221)

عَنْ عَمَّارِ بِنْ يَاسِرٍ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ رَخَصَ لِلْجُنُبِ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْكُلَ أَوْ يَشْرَبَ أَوْ يَنَامَ أَنْ يَتَوَضَّأَ وُضُوْءَهُ لِلصَّلاَةِ

          Dari Ammar bin Yasir t bahwa Nabi r telah memberi rukhsoh kepada orang yang junub bila ingin makan atau minum atau ingin tidur agar berwudhu’ sebagaimana wudhu’ sebagaimana wudhu’ untuk sholat {Shahih: ‘Aunul Ma’bud I:375 no:222}

عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَاَل : إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَعُوْدَ فَلْيَتَوَضَّأْ

          Dari Abu Sa’id t dari Nabi r beliau bersabda, “Apabila seorang diantara kamu telah selesai berkumpul dengan istrinya, lalu hendak mengulangi maka hendaklah berwudhu’ [sebelumnya]” {Shahih:Shahihul Jami’ush Shaghir no:263. Muslim I:249 no:308. ‘Aunul Ma’bud: 1:371 no:217,9 Tirmidzi 1:94 no:141 Nasa’i I:142, dan Ibnu Majah 1:193 no:587}.

  1. Sebelum mandi wajib atau mandi sunnah :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله عنها قَالَتْ : كَانَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم : إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ يَبْدَأُ فَيَغْسِلُ يَدَيْهِ ثُمَّ يُفْرِغُ بِيَمِيْنِهِ عَلَى شِمَالِهِ فَيَغْسِلُ فَرْجَهُ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ وُضُوْءَهُ لِلصَّلاَةِ

          Dari Aisyah r.a. ia berkata, “ Adalah Rasulullah r apabila mandi janabat, beliau memulai dengan membasuh kedua tangannya kemudian menuangkan [air] dengan tangan kanannya keatas tangan kirinya, lalu membersihkan kemaluannya. Kemudian berwudhu’ seperti wudhu’ untuk sholat” {Shahih: Mukthasar Muslim no:155 dan Muslim 1:253 no:316}

  1. Makan sesuatu yang dipanggang, sebagaimana yang dijelaskan dalam riwayat berikut :

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : تَوَضَّؤُوْا مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ

          Dari Abu Hurairah t, ia berkata, “ Saya mendengar Rasulullah r bersabda, “ Berwudhu’lah kalian karena [makan] sesuatu yang dipanggang”. {Shahih: Mukhtasar Muslim no:147, Muslim I:272 no: 352 dan Nasa’i I:105}

          Kata perintah dalam redaksi hadits diatas bernilai sunnah, karena ada hadits ‘Amr bin Umayyah adh-Dhamri ia berkata ;

رَأَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَحْتَزُّ مِنْ كَتِفِ شَاةٍ فَأَكَلَ مِنْهَا فَدُعِيَ إِلَى الصَّلاَةِ فَقَامَ وَطَرَحَ السِّكِّيْنَ وَصَلَّى وَلَمْ يَتَوَضَّأْ

          Saya pernah melihat Nabi r memotong bahu kambing [yang sedang dipanggang], lalu beliau memakannya kemudian terdengarlah panggilan untuk sholat, maka beliau berdiri dan melepaskan pisaunya, lalu sholat tanpa berwudhu’ lagi {Shahih:Mukhtasar Muslim no:148, Muslim 1:274 no:93 dan 355 dan ini adalah lafadz hadits Muslim, fathul Bari I:311 no:208}

  1. Untuk setiap kali sholat :

عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ رضي الله عنه قَالَ : كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم : يَتَوَضَّأُ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ فَلَمَّا كَانَ يَوْمُ الفَتْحِ تَوَضَّأَ وَمَسَحَ عَلَى خُفْيِهِ وَصَلَّى الصَّلَوَاتِ بِوُضُوْءٍ وَاحِدٍ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ يَارَسُوْلَ اللهِ إِنَّكَ فَعَلْتَ شَيْئًا لَمْ تَكُنْ تَفْعَلُهُ فَقَالَ عَمْدًا فَعَلْتُهُ يَاعُمَرُ

          Dari Buraidah t, katanya, “ Adalah Rasulullah r biasa berwudhu’ setiap akan sholat. Tatkala tiba fathu mekkah, beliau berwudhu’ dengan mengusap diatas khufnya dan mengerjakan sholat-sholat yang wajib dengan sekali wudhu’ saja “. Maka Umar bertanya kepadanya, Ya Rasulullah, sesungguhnya engkau melakukan sesuatu yang belum pernah engkau kerjakan sebelumnya ? “ Jawab Rosululloh, “ Sengaja saya berbuat begitu, wahai Umar”. {Shahih: Mukhtasar Muslim no:142, Muslim I:232 no: 277, ‘Aunul Ma’bud I:292 no:171, Tirmidzi I:42 no:61, Nasa’i :I:86}

  1. Pada setiap kali hadats, karena ada hadits :

عَنْ بُرَيْدَةَ رضي الله عنه قَالَ : أَصْبَحَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم يَوْمًا فَدَعَا بِلاَلاً فَقَالَ : يَابِلاَلُ بِمَا سَبَقْتَنِيْ إِلَى الْجَنَّةِ إِنِّيْ دَخَلْتُ الْبَارِحَةَ الْجَنَّةَ سَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِيْ ؟ فَقَالَ بِلاَلٌ يَارَسُوْلَ اللهِ مَاأَذَّنْتُ قَطٌّ إِلاَّ تَوَضَّأْتُ عِنْدَهُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لِهَذَا.

          Dari Buraidah t. ia mengatakan “ Pada suatu pagi Rasulullah r memanggil Bilal, lalu bertanya [kepadanya], Wahai Bilal, dengan bekal apakah engkau telah mendahului aku masuk kedalam surga, karena tadi malam aku masuk ke surga tiba-tiba mendengar suara gemersikmu dihadapanku ? ‘ Maka jawab Bilal, “ Ya Rasulullah setiap kali usai mengumandangkan adzan mesti aku sholat dua rakaat, dan setiap kali berhadats mesti aku segera berwudhu’ [lagi]’. Maka Rasulullah r bersabda “ Karena itu engkau mendahuluiku”. {Shahih:Shahihul Jami’us Shaghir no:7894 dan Tirmidzi V:282 no:3772}

  1. Karena Muntah:

عَنْ مَعْدَانَ بِنْ أَبِيْ طَلْحَةَ عَنْ أَبِيْ الدَّرْدَاءِ أَنَّ رَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلم قَاءَ فَأَفْطَرَ فَتَوَضَّأَ فَلَقِيْتُ ثَوْبَانَ فِيْ مَسْجِدِ دِمَشْقَ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ : صَدَقَ، أَنَا صَبَبْتُ لَهُ وُضُوْءَهُ

          Dari Ma’dan bin Abu Thalhah dari Abu Darda’ y bahwa Rasulullah r pernah muntah sehingga beliau membatalkan puasanya, lalu berwudhu’ [lagi]. Kemudian pada [suatu hari]. Aku Ma’dan berjumpa dengan Tsauban t di Masjid Damaskus, lalu keu ceritakan hal tersebut kepadanya, maka ia berkata, “ Benar Abu Darda’ itu, dan akulah yang menuangkan air wudhu’nya {Shahihul Isnad: Tamamul Minnah hal :111, Tirmidzi I:58 no:87, ‘Aunul Ma’bud VII:8 no:2364 namun tidak terdapat kata, FATAWADHDHA-A”}

  1. Seusai mengusung jenazah. Ini didasarkan pada sabda Nabi r :

مَنْ غَسَّلَ مَيْتًا فَلْيَغْتَسِلْ، وَمَنْ حَمَلَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ

          Barangsiapa yang telah memandikan mayat, maka mandilah, dan barangsiapa yang telah mengusungnya, maka berwudhu’lah {Shahih:Ahkamul Janaiz hal. 53.al-Fathur Rabbani II:145 no:486, Shahih Ibnu Hibban no 191/751, Baihaqi I:300 dan Tirmidzi II:231 no:998}

10. MASALAH TAYAMMUM

[Bersuci Dengan Menggunakan Debu]

 

11. Dalil Disyari’atkannya Tayammum 

A. Allah Y berfirman :

Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. ..{QS. Al Maidah :6}

B. Rasulullah r bersabda :

إِنَّ الصَّعِيْدَ الطَّيِّبَ طَهُوْرُ الْمُسْلِمِ وَإِنْ لَمْ يَجِدِ الْمَاءَ عَشْرَ سِنِيْنَ

      Bahwasannya debu yang bersih adalah sebagai pembersih bagi orang Muslim, walaupun ia tidak mendapatkan air [selama] sepuluh tahun {Shahih:Shahih Abu Dawud no: 322, Tirmidzi I:81 no:124, ‘Aunul Ma’bud I:528 no:329. dan Nasa’i I: 171 dengan lafadz mirip.

12. Sebab-sebab Yang Membolehkan Tayammum :

v  Karena tidak ada air

v  Karena sakit ; dikhawatirkan semakin memburuknya kondisi badan yang sakit

v  Karena suhu dingin yang mencapai titik maksimum.

Dalil-dalilnya ;

عَنْ عِمْرَانَ بِنْ حُصَيْنٍ رضي الله عنه قَالَ : كُنَّا مَعَ رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلم فِِيْ سَفَرٍ فَصَلَّى بِالنَّاسِ فَإِذَا هُوَ بِرَجُلٍ مُعْتَزِلٍ، فَقَالَ : مَامَنَعَكَ أَنْ تُصَلِّيَ قَالَ : أَصَابَتْنِيْ جَنَابَةٌ وَلاَ مَاءَ فَقَالَ صلى الله عليه وسلم : عَلَيْكَ بِالصَّعِيْدِ فَإِنَّهُ يَكْفِيْكَ

            Dari Imran bin Hushain tia berkata “ Kami pernah bersama Rasulullah r dalam satu perjalanan, beliau sholat bersama sahabat, ternyata ada seorang sahabat yang mengucilkan diri [dari mereka]. Kemudian Beliau bertanya : ‘ Apakah yang menghalangimu sholat bersama kami ? ‘ Laki-laki itu menjawab : Saya junub dan tidak ada air. Maka Nabi r bersabda, ‘ Hendaklah kamu bertayammum dengan debu karena  sesungguhnya ia cukup bagimu {Muttafaqun ‘alaihi : Fathul Bari I:477 no:344, Muslim I:474 no:682 dan Nasa’i I:171}

عَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ : خَرَجْنَا فِيْ سَفَرٍ فَأَصَابَ رَجُلاً مِنَّا حَجَرٌ فَشَجَّهُ فِي رَأْسِهِ ثُمَّ احْتَلَمَ فَسَأَلَ أَصْحَابَهُ فَقَالَ هَلْ تَجِدُوْنَ لِيْ رُخْصَةً فِى التَّيَمُّمِ ؟ فَقَالُوْا مَانَجِدُ لَكَ رُخْصَةٌ وَاَنْتَ تَقْدِرُ عَلىَ الْمَاءِ فَاغْتَسَلَ فَمَاتَ فَلَمَّا قَدِمْنَا عَلَى رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلم أُخْبِرَ بِذَلِكَ فَقَالَ : قَتَلُوْهُ قَتَلَهُمُ الله ُ أَلاَ سَأَلُواإِذْلَمْ يَعْلَمُوا فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيْهِ أَنْ يَتَيَمَّمُ

            Dari Jabir t, berkata, “ Kami keluar dalam satu perjalanan, lalu seorang diantara kami tertimpa sebuah batu sampai melukai kepalanya kemudian ia mimpi basah lalu bertanya kepada para sahabatnya, ‘ Apakah kalian mendapatkan rukhsah bagiku untuk bertayammun ?’ Maka jawab mereka. ‘Kami tidak mendapatkan rukhsah untukmu, karena engkau mampu menggunakan air’. Kemudian ia mandi besar sehingga meninggal dunia. Kemudian tatkala kami sampai ke hadapan Rasulullah r, hal tersebut diinformasikan, kepada Beliau, maka Beliau r bersabda, “ Mereka telah membunuhnya, maka Alloh akan membunuh mereka. Mengapa mereka tidak bertanya, bila mereka tidak mengetahui. Karena sesungguhnya obat kebodohan hanyalah bertanya, cukuplah baginya hanya dengan tayammum” {Hasan : Shahih Abu Daud no:326 dan ‘Aunul Ma’bud I:532 no:332

عَنْ عَمْرُوبِنْ الْعَاصِ رضي الله عنه أَنَّهُ لَمَّا بُعِثَ غَزْوَةِ ذَاتَ السَّلاَسِلِ قَالَ : احْتَلَمْتُ فِى لَيْلَةِ بَارِدَةٍ شَدِيْدَةٍ البَرْدِ فَأَشِفَقْتُ إِنِ اغْتَسَلْتُ أَنْ أَهْلِكَ فَتَيَمَّمْتُ ثُمَّ صَلَّيْتُ بِأَصْحَابِيْ صَلاَةَ الصًُّبْحَ. فَلَمَّاقَدِمْنَا عَلَى رَسُوْلِ الله ذَكَرُوْا ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ يَاعَمْرُو صَلَّيْتَ بِأَصْحَابِكَ وَأَنْتَ جُنُبٌ ؟ فَقُلْتُ : ذَكَرْتُ قَوْلَ الله تَعالَى (وَلاَ تَقْتُلُوْاأَنْفُسَكُمْ إِنَّ الله َ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا ) فَضَحِكَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم وَلَمْ يَقُلْ شَيْئًا

            Dari Amr bin Ash t bahwa tatkala ia diutus oleh Nabi r dalam peperangan Dzatul Salasil ia bercerita. “ Pada suatu malam yang dingin, yang suhunya mencapai titik maksimum saya ihtilam, lalu saya khawatir jika mandi saya akan celaka, maka aku bertayammum lalu sholat subuh dengan rekan-rekanku. Kemudian tatkala, kami sampai kepada Rasulullah r mereka menceritakan hal tersebut kepada Beliau lalu beliau bersabda “ Ya Amr, apakah engkau sholat bersama rekan-rekanmu dalam keadaan junub ? “ Maka saya jawab, “ Aku ingat firman Allah Y (Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri, karena sesungguhnya Alloh Maha Penyayang kepada kalian). Kemudian aku bertayammum lalu sholat. “ Maka Rasulullah r tersenyum dan tidak berkomentar sedikitpun {Shahih: Shahih Abu Daud no:323, al-fathur Robbani II:191 no: 16, ‘Aunul Ma’bud I:530 no:330 dan Mustadrakul Hakim I:177}

13. Pengertian Sha’id [Debu]

Dalam kamus Lisanul ‘Arab III :254. Ibnul Manzhur menulis sebagai berikut :

Kata sha’id (صعيد  ) berarti tanah. Ada yang berpendapat ia adalah tanah yang baik ada pula yang mengatakan ia adalah setiap debu yang baik. Di dalam Al Qur’an ditegaskan,   فتيمم صعيدا طيبا  maka bertayammumlah dengan debu yang bersih] .

‘Abu Ishaq menyatakan, Sha’id ialah permukaan tanah, maka orang yang hendak tayamum cukup menepukkan kedua tangannya pada permukaan tanah, dan ia tidak perlu ambil pusing apakah pada permukaan yang dimaksud terdapat debu atau tidak. Karena sha’id bukanlah debu, tetapi ia adalah di permukaan tanah baik berpa debu atau lainnya.

Karena itu, seandainya suatu kawasan seluruhnya berupa padang batu yang tak berdebu kemudian orang yang akan tayammum menepukkan tangannya pada permukaan batu itu, maka yang demikian itu baginya sebagai media pembersih jika dia mengusap wajah dengan tepukan itu.

14. Cara Bertayammum

عَنْ عَمَّارِ بِنْ يَاسِرِ رضي الله عنه قَالَ : أَجْنَبْتُ فَلَمْ أُصِبْ مَاءً فَتَمَعَّكْتُ فِى الصَّعِيْدِ وَصَلَّيْتُ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيْكَ هَكَذَا وَضَرَبَ النَّبِيُّ بِكَفَّيْهِ الأَرْضَ وَنَفَخَ فِيْهِمَا، ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ وَكَفَّيْهِ

            Dari Ammar bin Yasir t, ia berkata “ Pada suatu saat aku junub, lalu tidak mendapatkan air, kemudian aku berguling-guling diatas permukaan tanah lalu sholat, setelah itu kusampaikan hal itu kepada Nabi r kemudian Rosululloh r bersabda “ Sebenarnya cukuplah bagimu hanya (berbuat) begini “ Yaitu Nabi r menepukkan kedua telapak tangannya pada permukaan tanah, kemudian meniup keduanya, lalu beliau mengusapkan keduanya pada wajah dan kedua telapak tangannya “ { Muttafaqun ‘alaihi : Fathul Bari I:455 no: 347. Muslim I:280 no: 368 ‘Aunul Ma’bud I:514 no:317 dan Nasa’i I:166}

Kesimpulan :

          Pada prinsipnya tayamummun menduduki porsi wudhu’ maka dihalalkan dengan tayamummun apa saja yang dihalalkan dengan wudhu’ dean boleh tayamum sebelum tibanya waktu sholat sebagaimana halnya boleh berwudhu’ sebelum datangnya waktu sholat. Serta boleh melakukan mengerjakan sholat semampunya sebagaimana, boleh sholat dengan wudhu’ sebanyak rakaat yang dikehendaki.

15. Hal-hal Yang Membatalkan Tayammum

Tayammum akan batal dengan :

  • Apa-apa yang membatalkan wudhu’
  • Adanya air [didapatkannya air]
  • Mampu menggunakan air [bagi orang yang awalnya tidak mampu menggunakan air]
  • Sedangkan sholat yang telah dikerjakan tetap sah tidak perlu mengulanginya.

Dalil-dalilnya :

عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الخُذْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ : خَرَجَ رَجُلاَنِ فِى سَفَرٍ فَحَضَرَتِ الصَّلاَةُ وَلَيْسَ مَعَهُمَا مَاءٌ، فَتَيَمَّمَا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَصَلَِّيَا، ثُمَّ وَجَدَ المَاءَ فِيْ الوَقْتِ فَأَعَادَ أَحَدُ هُمَا الوُضُوْءَ والصَّلاَةَ وَلَمْ يَعِدِ الأَخَرُ، ثُمَّ أَتَيَا رَسُوْ لَ الله صلى الله عليه وسلم فَذَكَرَا ذَلِكَ لَهُ، قَالَ : لِلَّذِيْ لَمْ يَعِدْ أَصَبْتُ السُّنَّةَ وَأَجْزَأَتْكَ صَلاَتَكَ، وَقَالَ : لِلَّذِيْ تَوَضَّأَ وَأَعَادَ : لَكَ الأَجْرُ مَرَّتَيْنِ

            Dari Abi Sai’d al-khudri t, berkata : Ada dua orang keluar melakukan safar lalu tibalah waktu sholat sementara keduanya tidak membawa air maka mereka bertayamum dengan permukaan tanah yang bersih, lalu sholat. Kemudian pada waktu itu mereka berdua mendapatkan air. Kemudian seorang dari keduanya mengulangi wudhu’ dan sholat, sedangkan yang satunya lagi tidak mengulanginya. Kemudian mereka berdua datang kepada Rasulullah r, lalu menceritakan hal itu kepada Beliau. Maka beliau bersabda kepada orang yang tidak mengulangi [sholatnya], “Engkau telah sesuai dengan sunnah [ku] dan sholatmu telah cukup bagimu. “ Dan kepada orang yang berwudhu’ dan yang mengulangi [sholatnya] Beliau bersabda, “ Engkau mendapatkan dua pahala “ {Shahih: Shahih Abu Daud no:327, ‘ Aunul Ma’bud I:536 no:334 dan Nasa’i I:213}

 Kesimpulan :

  1. Luka yang terbalut dengan perban atau tertambalnya tulang karena retak ; gugurlah kewajiban membasuh anggota wudhu’ bahkan tidak harus juga mengusap diatasnya pun tidak juga wajib bertayammum
  2. Gugurnya kewajiban tersebut berdasarkan al-Qur’an dan sunnah Nabi r,[ seseorang tidak terbebani melainkan sesuai dengan kesanggupannya]  sedangkan yang berhak menentukan pengganti dari mengusap diatas anggota wudhu’ atau anggota tayamum yang dibalut atau ditambal hanyalah syara’ sementara syara’ menetapkan segala sesuatu hanya dengan ayat al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW. Padahal keduanya tidak pernah menetapkan pengganti mengusap anggota wudhu’ atau anggota tayamum yang dibalut/diperban, maka tertolaklah pendapat yang mengharuskan membasuh atau mengusapnya [Lihat, al-Muhalla II: 74]

Dalil-dalilnya :

Firman Allah Y: Allah Y tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.  [QS. Al Baqarah : 286]

Dan Sabda Nabi r :

إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَااسْتَطَعْتُمْ

      Apabila aku memerintahkan kalian [melakukan] sesuatu, maka kerjakanlah semampumu {Shahih : Mukhtasar Muslim no:639. Muslim, II : 975 no: 1337 dan Nasa’i V:110}

16. MANDI BESAR

17. Hal-hal Yang Mewajibkan Mandi :

  1. Keluar mani, baik ketika jaga [terbangun] ataupun ketika [tidur] nyenyak.

Rasulullah r bersabda :

إِنَّمَااْلمَاءُ مِنَ المَاءِ

            Sesungguhnya [mandi] air hanyalah karena [mengeluarkan] air [mani] {Shahih : Mukhtasar Muslim no:151, Muslim I:269 no:343 dan ‘Aunul Ma’bud I:366 no:214}

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ َأَمَّ سُلَيْمٍ قَالَتْ : يَارَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلم، إِنَّ الله لاَيَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ فَهَلْ عَلَى المَرْأَةِ مِنْ غُسْلٍ إِذَا احْتَلَمَتْ ؟ قَالَ نَعَمْ إِذَا رَاَتِ الْمَاءَ

            Dari ummi Salamah bahwa Ummu Sulaim t. bertanya : ‘ Ya Rasululllah, sesungguhnya Alloh tidak malu terhadap terhadap yang haq, maka apakah perempuan [juga] wajib mandi bila mimpi” Jawab Beliau. “ Ya jika ia melihat air [mani] {Muttafaqun ‘alaih : Fathul bari I:228 no:130, Muslim I :251 no:313 dan Tirmidzi I:80 no:122}

            Mengenai keluar air mani diwaktu terbangun [bukan tidur], diisyaratkan harus karena dorongan syahwat. Hal ini merujuk kepada sabda Nabi r :

إِذَا حَذَفْتَ اْلمَاءَ فَاغْتَسِلْ مِنَ الْجَنَابَةِ  وَإِذَا لَمْ تَكُنْ حَذِفًا فَلاَ تَغْتَسِلْ

            Apabila kamu memuncratkan air [mani], maka mandi janabatlah, namun manakala kamu tidak memuncrat [keluar tanpa syahwat], maka janganlah mandi janabat {Sanadnya Hasan Shahih : Irwaul Ghalil I:162, dan al-Fathur Rabbani I:247 no:82}

            Dalam Nailul Authar I:275, Imam asy-Syaukani menegaskan, “Kata alhadzf (الحذف ) kata dasar dari kata kerja hadzafa berarti : melempar, dan perbuatan ini mesti karena dorongan syahwat. Oleh karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan, “ hadits ini mengandung peringatan, bahwa air mani yang keluar bukan karena dorongan syahwat, misalnya, karena sakit atau cuaca sangat dingin. Maka tidak wajib mandi janabat.

          Barangsiapa yang berihtilam [bermimpi basah], namun ternyata ia tidak mendapati air mani, maka tidak harus mandi. Sebaliknya siapa saja yang mendapati air mani, namun ia tidak ingat ihtilam maka ia harus mandi.

عَنْ عَائشَةَ قَالَتْ : سُئِلَ رَسُوْ لُ الله  r عِنِ الرَّجُلِ يَجِدُ البَلَلَ وَلاَيَذِِْكُرُ احْتِلاَمًا .؟ فَقَالَ يَغْتَسِلُ. وَعَنِ الرَّجُلِ يَرَى أَنَّهُ قَدْ احْتَلَمَ وَلاَيَجِدُ البَلَلَ فَقَالَ : لاَغَسْلَ عَلَيْهِ

            Dari Aisyah tia berkata ; “Rasulullah r pernah ditanya tentang seorang laki-laki mendapati [kainnya] basah dan ia tidak ingat ihtilam [bermimpi] ? Maka jawab Beliau “ ia harus mandi”. Kemudian [ditanya lagi] perihal seorang laki-laki yang yakin bahwa dirinya ihtilam namun ternyata ia tidak mendapati basah [pada kainnya] ? Maka jawab Beliau : “ Tidak ada kewajiban mandi diatasnya” {Shahih: Shahih Abu Daud no:216, Tirmidzi I:74 no: 113 ‘Aunul Ma’bud I:399 no:233}

  1. Jima’ sekalipun tidak mengeluarkan sperma :

عَنْ أَبِيْ هُرَيرَةَ عَنِ النَّبِيِّ   r  قَالَ : إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شَعَبِهَا الأَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ اْلغُسْلُ وَإِنْ لَمْ يَنْزِلْ

            Dari Abu Hurairah t dari Nabi r, Beliau bersabda, “ Apabila seseorang duduk di antara empat anggota badan [istrinya], lalu bersungguh-sungguh memperlakukannya [yaitu jima’], maka ia wajib mandi, sekalipun tidak mengeluarkan [air mani] {Shahih : Mukhtasar Muslim no:152 dan Muslim I:271 no:348}

  1. Orang kafir yang baru masuk Islam :

عَنْ قَيْسِ بِنْ عَاصِمٍ أَنَّهُ أَسْلَمَ فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَنَّ يَغْتَسِلَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ

            Dari Qais bin Ashim t bahwa ia masuk Islam, lalu diperintah oleh Nabi r agar mandi dengan menggunakan air yang dicampur dengan daun bidara {Shahih:Irwaul Ghalil no: 128, Nasa’i I:109, Tirmidzi II:58 no:602 dan ‘Aunul Ma’bud II:19 no:351}

  1. Berhentinya darah haidh dan nifas :

عَِنْ عَائشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ لِفَاطِمَةَ بِنْتِ أَبِيْ حُبَيْشٍ إِذَا أَقْبَلَتِ الحَيْضَةُ فَدَعِيَ الصَّلاَةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْتَسِلِى وَصَلِّى

            Dari Aisyah t. bahwa Nabi r bersabda kepada Fatimah binti Abi Hubaisyah t., ‘ Apabila [waktu] haidh datang, maka tinggalkanlah sholat dan apabila [waktu] haidh berakhir, maka mandilah dan sholatlah !” {Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari I:420 no:320, Muslim I:262 no:333. ‘Aunul Ma’bud I:466 no:279. Tirmidzi 1:82 no:125, Nasa’i I:186, dan redaksi mereka, terkecuali Imam Bukhari adalah, ‘Fa aghsi-lii ‘ankid dam’ [maka cucilah darah darimu].

            Adapun status hukum nifas menurut ijma’ ulama’ sama dengan hukum haidh.

18. Rukun Mandi Besar

1. Niat, karena ada hadits :

إِنَّمَاالأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

  Sesungguhnya segala amal perbuatan bergantung pada niatnya {Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari I:9 no:1, Muslim III :1515 no:1907, ‘Aunul Ma’bud VI:284 no:2186, Tirmidzi III:100 no:1698, Ibnu Majah II:1413 no:4227 dan Nasa’i I:59}

2. Menyiramkan air pada sekujur tubuh.

19. Tata Cara Mandi Besar Yang Dianjurkan :

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ : كَانَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ يَبْدَأُ فَيَغْسِلُ يَدَيْهِ ثُمَّ يُفْرِغُ بِيَمِيْنِهِ عَلَى شِمَالِهِ فَيَغْسِلُ فَرْجَهُ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ وُضُوْءَهُ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ يَأْخُذُ الْمَاءَ فَيُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي أُصُوْلِ الشَّعْرِ حَتَّى إِذَا رَأَى أَنْ قَدِ اسْتَبْرَأَ حَفَنَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ حَفَنَاتٍ ثُمَّ أَفَاضَ عَلىَ سَائِرِ جَسَدِهِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ

            Dari Aisyah ia berkata : Adalah Rasulullah r apabila mandi janabat memulai dengan mencuci kedua tangannya, kemudian menuangkan [air] dengan tangan kanannya ke atas tangan kirinya, lalu mencuci kemaluannya kemudian berwudhu’ sebagaimana wudhu’nya untuk sholat, kemudian, mengambil air [dengan tangannya], lalu memasukkan jari-jari tangannya ke pangkal rambut hingga apabila ia melihat sudah tersentuh air semua pangkal rambutnya, ia menuangkan air keatas kepalanya 3 kali tuangan dengan kedua tapak tangannya, kemudian menyiram sekujur tubuhnya, lalu membasuh kedua kakinya {Muttafaqun ‘alaih}

Catatan :

Perempuan tidak wajib membuka ikat rambut dan semisalnya ketika akan mandi janabat.

عَِنْ أُمِّ سَلَمَةَ رضي الله عنها قَالَتْ : قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ إِنِّيْ امْرَأَةٌ أَشُدُّ ضَفْرَ رَأْسِي أَفَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ اْلجَنَابَةِ ؟ قَالَ لاَ إِنَّمَا يَكْفِيْكِ أَنْ تَحْثِيَ عَلىَ رَأْسِكِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ ثُمَّ تُفِيْضِيْنَ عَلَيْكِ الْمَاءَ فَتَطْهُرِيْنَ

            Dari Ummi Salamah r.a. ia berkata, saya pernah bertanya : “ Ya Rosululloh sesungguh aku seorang perempuan yang mengikat kuat rambut kepalaku, lalu apakah saya harus membukanya untuk mandi janabat ? “ Jawab Beliau, “ Tidak [harus] cukup bagimu menuangkan [air] diatas kepalamu tiga kali tuangan, kemudian engkau siramkan air ke atas badanmu, dengan demikian kamu menjadi suci  {Shahih: Irwaul Ghalil no:136. Muslim I:259 no:330, ‘ Aunul Ma’bud I:426 no:248, Nasa’i I:131, Tirmidzi I:71 no:105, Ibnu Majah I:198 no:603}

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي الله عنها أَنَّ أَسْمَاءَ سَأَلَتِ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم عَنْ غُسْلِ الْمَحِيْضِ فَقَالَ تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءَهَاوَسِدْرَتَهَافَتُطَهِّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُوْرَ ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتُدْ لُكُهُ دَلْكًا شَدِيْدًا حَتَّى تَبْلُغَ شُؤُونَ رَأْسِهَا ثُمَّ تَصُبُّ عَلَيْهَا الْمَاءَ ثُمَّ تَأْخُذُ فِرْصَةً مُمَسَّكَةً فَتُطَهِّرُ بِهَا فَقَالَتْ أَسْمَاءُ وَكَيْفَ تَطَهَّرُ بِهَا ؟ قَقَالَ سُبْحَانَ الله ِ تَطَهَّرِيْ بِهَا فَقَالَتْ عَائِشَةُ [كَأَنَّهَا تُخْفِيْ ذَلِكَ] تَتَبَّعِيْنَ أَثَرَ الدَّمِ وَسَأَلَتْهُ عَنْ غُسْلِ الْجَنَابَةِ فَقَالَ تَأْخُذُ مَاءً فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُوْرَ أَوْ تُبْلِغُ الطُّهُوْرَ ثُمَّ تَصُبُّ عَلىَ رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ حَتَّى تَبْلُغَ شُؤُونَ رَأْسِهَا ثُمَّ تُفِيْضُ عَلَيْهَا اْلمَاءَ

            Dari Aisyah r.a., bahwa Asma’ pernah bertanya kepada Nabi perihal mandi haidh. Maka jawab Beliau : Hendaklah seorang diantara kamu mengambil air beserta daun bidara, lalu hendaklah ia bercuci dengan sempurna, kemudian tuangkanlah air ke atas kepalanya, lalu gosoklah kepalanya dengan sungguh-sungguh hingga rata, kemudian tuangkanlah lagi air keatas kepalanya, kemudian ambillah sepotong kain atau kapas maka dengan demikian ia menjadi suci. Kemudian Asma’ bertanya, [Wahai Rosululloh] bagaimana ia dianggap suci dengan cara itu ?  Maka jawab Beliau, “

Subhanallah….dengan cara itu ia sudah menjadi suci. Kemudian Aisyah berkata, [sambil membisikkan] ‘[Hai Asma’] kamu harus memperhatikan [menjelajahi] bekas darah, “ Kemudian Asma’ bertanya kepada Beliau perihal mandi janabat, maka jawab Beliau. “ Hendaklah si perempuan itu mengambil air lalu bersuci dengan baik atau dengan sempurna, kemudian tuangkanlah [air] ke atas kepalanya, lalu gosoklah kepalanya sampai rata, kemudian tuangkanlah air ke atasnya {Shahih: Mukhtasar Muslim no: 172, Muslim I:261 no:61 dan 332}

            Dengan sharih [jelas] hadits tersebut membedakan antara mandi haidh dengan mandi junub, dimana ia memberi penekanan kepada orang haidl agar menggosok kepalanya dengan sungguh-sungguh dan bersuci dengan serius  yang tidak ditekankan kepada orang yang mandi janabat, sebagaimana hadits Ummu Salamah sebagai dalil bahwa orang, yang mandi junub tidak wajib menguraikan [melepaskan] ikat rambut atau semisalnya. [Tahdzibul Sunan Abi Daud oleh Ibnul Qoyyim I:167 no:166 dengan sedikit perubahan]

            Pada asalnya, diuraikannya rambut agar yakin akan sampainya air ke pangkal-pangkal rambut, hanya saja hal ini tidak diharuskan kepada orang yang akan mandi janabat, karena mandi ini berulang kali dan akan menimbulkan kesulitan berat bagi kaum wanita. Berbeda jauh dengan mandi haidl yang hanya terjadi sekali dalam sebulan. [Tahdzibul Sunan Abi Daud oleh Ibnul Qoyyim I:167 no:166 dengan sedikit perubahan]


[1]Muttafaqun ‘alaih: Fathul bari X:96 no:5633, Muslim III:1637 no:2067, Tirmidzi III:199 no:1939, ‘Aunul Ma’bud X:189 no:3705 Ibnu Majah II:1130 no:3414, tanpa ada larangan dari mengenakan sutera tebal dan sutera tipis dan Nasa’i VIII:198

[2]Muttafaqun ‘alaihi: Fathul Bari X:96 no:5634, Muslim Muslim III:1634 no: 2065 dan Ibnu Majah II:1130 no:3413

[3]Syaikh Abdul Aziz Muhammad As-Salman, Al Asilah wal Ajwibah Al Fiqhiyah Al Maqrunah bi Al-Adilah Asy-Syar’iyah jilid I

[4]Hasan Li Dzatihi : Diriwayatkan oleh lima periwayatan kecuali Imam Nasa’i} Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Khuzaimah, Tirmidzi, Imam malik, Syafi’i,Ahmad. Lafadz milik Ibnu Syaibah

[5]Shahih : Mukhtasharal Muslim no:104, Muslim I:204 no:224, Tirmidzi I:3 no:1

[6]Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan dinyatakan dhaif [lemah] oleh Abu Hatim

[7]Syaikh Abdul Aziz Muhammad As-Salman, Al Asilah wal Ajwibah Al Fiqhiyah Al Maqrunah bi Al-Adilah Asy-Syar’iyah jilid I

[8]Muttafaq ‘alaihi : Muslim I:204 no. 226, dan ini redaksinya, Fathul Bari I : 226 no :164, ‘Aunul Ma’bud I:180 no:106 dan Nasa’i I : 64

[9]Muttafaqun alaih : Fathul Bari, I:9 no:1, Muslim III:1515 no :1907, Aunul Ma’bud VI : 284 no:2186, Tirmidzi III:100 no:169, Ibnu Majah II:1413 no:4227, Nasa’i I:59

[10] Hadits Hasan : Shohihu Ibnu Majah no:320 ‘Aunul Ma’bud I:174 no:101 dan Ibnu Majah I:140 no:399

[11]Shahih : Shahih Abu Dawud no:161 dan ‘Aunul Ma’bud I:296 no:173

[12]Shahih : Shahihul Jami’us Shagir no: 443, ‘Aunul Ma’bud I:234 no:140 dan Nasa’i I:66

[13]Shahih : Shahih Abu Daud no:129 dan 131, Aunul Ma’bud I:236 no:142 dan 144

[14]Shahih sama dengan diatas

[15]Shahih : Shahih Ibnu Majah no:357 dan Ibnu Majah I:152 no:443

[16]Shahih : Irwaul Ghalil no:92. ‘Aunul Ma’bud I : 243 no:45, dan Baihaqi I:54

[17]Shahih; Shahih Abu Daud no: 129 dan 131 dan ‘Aunul Ma’bud I: 2 36 no: 142 dan 144

[18]Shahih: Shahihul Jammi no: 5316 dan al-Fathur Rabbani I:294 no: 171

[19]Shahih: Mukhtashar Muslim no: 125, dan Muslim I:210 no:235

[20]Shahih; Shahih Abu Daud no: 129 dan 131 dan ‘Aunul Ma’bud I: 2 36 no: 142 dan 144

[21]Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari I:269 no: 168, Muslim I: 226 no:268, Nasa’i I: 78

[22] Sanadnya shahih : Shahih Ibnu Khuzaimah I:62 no: 118

[23] Hasan Shahih : Shahih Abu Dawud no:124. Fathul Bari I:258 no: 158 dari hadits Abdulloh bin Zaid. ‘Aunul Ma’bud I:230 no: 136, Tirmidzi I:31 no:43 dari hadits Abu Hurairah}

[24] Hasan Shahih : Shahih Abu Dawud no: 101 dan Aunul Ma’bud I:188 no: 110

[25] Shahih: Shahih Abu Daud no:112 dan ‘Aunul Ma’bud I:211 no:121

[26]Shahih : Mukhtasharu Muslim No : 143 dan Muslim I : 209 no:234

[27]Shahih: Shahih Tirmidzi no:48 dan Tirmidzi I :38 no. 55

[28]Hadits Shahih, lihat at Targhib no. 220, al-Hakim I/564

[29] Muttafaq ‘alaihi : Muslim I:204 no. 226, dan ini redaksinya, Fathul Bari I : 226 no :164, ‘Aunul Ma’bud I:180 no:106 dan Nasa’i I : 64

[30]Muttafaqun ‘alaih :Fathul Bari III: 34 no: 1149 dan Muslim IV :1910 no: 2458

[31]Muttafaqun ‘alaihi, Fathul Baari I:234 no:135, Baihaqi I:117, Fathur Robbani, Ahmad II: 75: no: 352} Dan asal hadits ini menurut sebagian mukharrij selain yang disebut diatas tidak ada tambahan [tentang pernyataan orang dari Hadramaut itu], Muslim I:204 no: 225, ‘Aunul Ma’bud I:87 no: 60, dan Tirmidzi I: 150 no: 76

[32] Shahih : Shahih Abu Dawud no:190, dan Baihaqi I: 115

[33]Hasan : Shahih Nasa’i no:123 Nasa’i I:84 dan Tirmidzi I:65 no:69

[34] Hasan : Shahih Ibnu Majah no:386. Ibnu Majah I:161 no: 477 dan ‘Aunul Ma’bud I:347 no:200 dengan redaksi sedikit berlainan

[35]Nailul Authar I:242

[36]Shahih : Shahih Ibnu Majah no:388, ‘Aunul Ma’bud I:507 no: 179, Ibnu Majah I:161 no:479, Nasa’i I:100. Tirmidzi I:55 no: 82 dengan ‘ فَلاَ يُصَلِّى  ‘ [maka janganlah sholat…] dan sabda Nabi r :

هَلْ هُوَ إِلاَّ بِضْعَةٌ مِنْكَ

            Bukankah ia hanyalah bagian dari tubuhmu [Shahih : Shahih Ibnu Majah no:392. Ibnu Majah I:163 no:483, ‘Aunul Ma’bud I:312 no:180 Nasa’i I:101, Tirmidzi I:56 no:85]

[37]Shahih : Shahih Ibnu Majah no:401, Ibnu Majah I:166 no: 494, Tirmidzi I:54 no:81, Aunul Ma’bud I:315 no: 182

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
AR-SA

MicrosoftInternetExplorer4

st1\:*{behavior:url(#ieooui) }

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;}

BAB I

19MASALAH PENTING TENTANG THAHARAH

YANG BERKAITAN DENGAN MASALAH SHALAT

 

1. Epistemologi  Thaharah

          Apa definisi thaharah ? Dan mengapa bab Thaharah selalu didahulukan dalam pembahasan fiqh ? Cobalah anda buka kitab-kitab hukum semisal Bulughul Maram yang disusun oleh Al Imam Abu Fadhl Ahmad Bin Ali Ibnu  Hajar [Wafat :852 H], demikian juga  Al Wajiz, Ensiklopedi dalam Al Qur’an dan As Sunnah, oleh Syaikh ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi Al-Khalafi [salahsatu murid cerdas Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani], Al – Fiqhu Al-Islami Wa ‘adilatuhu, oleh Syaikh Wahbah Az Zuhaili, maupun Kitab Minhajul Muslim oleh Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi dan kitab-kitab fiqh yang lain niscaya akan anda dapati bahwa Bab Thaharah selalu didahulukan dalam pembahasan fiqh.

 

            Tentu saja hal ini mempunyai keistimewaan tersendiri yang diantaranya adalah karena thaharah [bersuci] merupakan salahsatu syarat sahnya shalat, padahal kita tahu shalat adalah rukun dari rukun Islam setelah dua kalimat syahadat. Jadi, syarat [sahnya shalat] tentu harus didahulukan [pembahasannya] daripada yang disyaratkan [yaitu shalat].

 

          Diantara pembahasan pertama dalam ranah thaharah adalah masalah aniyah [bejana-bejana], hal ini disebabkan karena air merupakan salahsatu benda yang berfungsi sebagai penyuci mesti ada tempat penampungnya. Kita dibolehkan menggunakan semua bentuk aniyah atau bejana-bejana tentu saja yang suci walaupun harganya mahal, kecuali bejana yang terbuat dari emas atau perak, baik yang murni maupun yang hanya sebagai campuran saja. Akan tetapi kalau campuran emas atau peraknya hanya sedikit saja, maka itu dibolehkan.

          Berdasarkan pada hadits Nabi r :

عَنْ حُذَيْفَةَ t أَنَّ النَّبِيَّ r قَالَ : لاَتَشْرَبُوا فِى آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلاَ تَلْبَسُوْا الحَرِيْرَ وَلاَ الذِّيْبَاجَ فَإِنَّهَا لَهُمْ فِيْ الدُّنْيَا وَلَنَا فِيْ الأخِرَةِ

          Dari Khuzaifah t bahwa Nabi r berkata : Janganlah kamu sekali-kali minum dengan benaja emas atau perak [murni] dan jangan pula kamu memakai sutera tipis, karena sesungguhnya itu untuk mereka [orang-orang kafir] di dunia saja dan bagi kita diakhirat kelak[1]
            Begitu juga hadits dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah r bersabda :

عَنْ أمِّ سَلَمَةَ رضي الله عنها أَنَّ النَّبِيَّ r قَالَ : ألَّذِيْ يَشْرَبُ فِى إِنَاءِ الفِضَّةِ إِنَّمَا يُجَرْجِرُ فِى بَطْنِهِ نَارَ جَهَنَّمَ

          Dari Ummu Salamah r.a, bahwa Rasulullah r bersabda : Orang yang minum dengan bejana perak hanyalah memasukkan api jahannam ke dalam perutnya[2]

          Lalu apa definisi thaharah ? Thaharah secara bahasa artinya bersuci atau menghilangkan kotoran. Adapun secara syar’i ; menghilangkan najis atau kotoran dengan air atau debu [tanah] yang suci lagi mensucikan dengan tata cara yang telah ditentukan oleh syari’at[3] 

          Diantara dalil-dalil yang sesuai dengan pernyataan diatas sebagai berikut ;

لِقَوْ لِ رسُولِ الله صلى الله عليه وسلم : مِفْتَاحُ الصَّلاَةِ الطَّهُوْرُ وَتَحْرِيْمُهَا التَّكْبِيْرُ وَتَحْلِيْلُهَا التَّسْلِيْمُ

          Kunci shalat adalah bersuci. Shalat diawali dengan membaca takbir dan diakhiri dengan membaca salam[4]

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنه قَالَ : سَمِعْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : لاَتُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طَهُوْرٍ

          Dari Ibnu Umar t ia berkata : “ Saya mendengar Nabi r bersabda: Tidak diterima shalat [yang dilaksanakan] tanpa bersuci [sebelumnya] [5]

            Thaharah terbagi menjadi dua ; thaharah dengan air, dan thaharah dengan debu/tanah. Thaharah dengan air meliputi wudhu dan mandi besar dan hal ini disyaratkan dengan air yang suci ; air yang suci dzatnya dan bisa digunakan untuk mensucikan.

            Firman Allah Y :

ãAÍi”t\ãƒurNä3ø‹n=tæz`ÏiBÏä!$yJ¡¡9$#[ä!$tBNä.tÎdgsÜã‹Ïj9¾ÏmÎ/  ÇÊÊÈ     

Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu)  {QS. Al Anfal : 11}

                Dan juga firman-Nya dalamQS. Al Furqan : 48 :

uqèdurü“Ï%©!$#Ÿ@y™ö‘r&yx»tƒÌh9$##MŽô³ç0šú÷üt/ô“y‰tƒ¾ÏmÏGyJômu‘4$uZø9t“Rr&urz`ÏBÏä!$yJ¡¡9$#[ä!$tB#Y‘qßgsÛÇÍÑÈ  

Dia lah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan kami turunkan dari langit air yang amat bersih,.

                Dengan demikian kita perlu untuk mengetahui, mana air yang suci dan mana air yang tidak suci [najis]. Kapan air itu menjadi tidak suci ? Air yang suci menjadi tidak suci apabila telah berubah warna, rasa, dan baunya disebabkan kemasukan benda yang najis. Sebagaimana sabda Rasulullah r :

وَعَنْ أبِيْ أُمامَةَ الْبَاهِلِيِّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رسُوْ لُ الله صلى الله عليه وسلم : إِنَّ المَاءَ لاَيُنَجِّسُهُ شَيْءٌ، إِلاَّ مَاغَلَبَ عَلَى رِيْحِهِ وَطَعْمِهِ وَلَوْنِهِ

Sesungguhnya air itu tidak bisa dinajiskan oleh apapun, kecuali oleh benda yang mengubah bau, rasa, dan warnanya [6]

          Al Baihaqi meriwayatkan dengan lafadz :

الْمَاءُ طَهُوْرٌ إِلاَّ إِنْ تَغَيَّرَ رِيْحُهُ أَوْطَعْمُهُ أَوْ لَوْنُهُ بِنَجَاسَةٍ تَحْدُثُ فِيْهِ

          Semua air itu suci, kecuali apabila telah berubah bau, rasa, dan warnanya dengan sebab kemasukan benda najis.

            Para ulama’ sepakat bahwa air banyak atau sedikit, apabila tercampur dengan benda najis kemudian berubah warna, rasa, atau baunya, maka air itu menjadi najis. Wallahu a’lam washallahu ala Muhammad.

          Selanjutnya, Bagaimana cara mensucikan air yang telah menjadi air najis ? Hal ini ada tiga cara ; pertama, Air yang najis itu hilang sendiri sifat-sifat kenajisannya. Kedua, Dengan cara menguras atau membuang semua air yang kena najis, dan menyisakan air yang suci. Ketiga, Dengan cara menambahkan air yang suci ke dalam air yang najis hingga hilang sifat-sifat air najis tersebut[7]            

2. Perintah Berwudhu/Tayammum Sebelum Sholat :   

$pkš‰r¯»tƒšúïÏ%©!$#(#þqãYtB#uä#sŒÎ)óOçFôJè%’n<Î)Ío4qn=¢Á9$#(#qè=Å¡øî$$sùöNä3ydqã_ãröNä3tƒÏ‰÷ƒr&ur’n<Î)È,Ïù#tyJø9$#(#qßs|¡øB$#uröNä3řrâäãÎ/öNà6n=ã_ö‘r&ur’n<Î)Èû÷üt6÷ès3ø9$#4bÎ)uröNçGZä.$Y6ãZã_(#r㍣g©Û$$sù4bÎ)urNçGYä.#ÓyÌó£D÷rr&4’n?tã@xÿy™÷rr&uä!%y`Ӊtnr&Nä3YÏiBz`ÏiBÅÝͬ!$tóø9$#÷rr&ãMçGó¡yJ»s9uä!$|¡ÏiY9$#öNn=sù(#r߉ÅgrB[ä!$tB(#qßJ£Ju‹tFsù#Y‰‹Ïè|¹$Y6ÍhŠsÛ(#qßs|¡øB$$sùöNà6Ïdqã_âqÎ/Nä3ƒÏ‰÷ƒr&urçm÷YÏiB4$tB߉ƒÌãƒª!$#Ÿ@yèôfuŠÏ9Nà6ø‹n=tæô`ÏiB8ltym`Å3»s9ur߉ƒÌãƒöNä.tÎdgsÜãŠÏ9§NÏGãŠÏ9ur¼çmtGyJ÷èÏRöNä3ø‹n=tæöNà6¯=yès9šcrãä3ô±n@ ÇÏÈ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub Maka mandilah, dan jika kamu sakit[403] atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh[404] perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. [QS. Al Maidah :6]

[403]  Maksudnya: sakit yang tidak boleh kena air.

[404]  artinya: menyentuh. menurut Jumhur ialah: menyentuh sedang sebagian Mufassirin ialah: menyetubuhi.

 

3.   Tata Cara Wudhu’ :

وَعَنْ حمُْرَانَ مَوْلَى عُثْماَنَ  اَنَّ عُثْمَانَ رَضِيَ الله ُعْنْهُ دَعَابِوُضُوْءٍ .فَتَوَضَّأَ  فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ تَمَضْمَضَ ، وَاسْتَنْشَقَ ، وَاسْتَنْثَرَ ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنىَ إِلىَ الْمِرْفَقِ، ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ اْليُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ اْليُمْنىَ إِلىَ اْلكَعْبَيْنِ  ثَلاَثَ مَرَّاتٍ  ثُمَّ غَسَلَ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ قاَلَ : رَأَيْتُ رَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلم تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوْئِيْ هَذَا ثُمَّ قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَوُضُوْئِى هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لاَيُحَدِّثُ فِيْهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ قَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَكَانَ عُلَمَاؤُنَا يَقُوْلُوْنَ هَذَا الوُضُوْءُ أََسْبَغُ مَايَتَوَضَّأُ بِهِ أَحَدٌ لِلصََلاَةِ   

            Dari Humran bekas budak Utsman, bahwa Utsman bin Affant meminta air wudhu. (setelah dibawakan), ia berwudhu’ : Ia mencuci kedua telapak tangannya tiga kali, kemudian berkumur-kumur dan memasukkan air kedalam hidungnya, kemudian mencuci wajahnya tiga kali, lalu membasuh tangan kanannya sampai siku tiga kali, kemudian membasuh tangan kirinya tiga kali seperti itu juga, kemudian mengusap kepalanya lalu membasuh kakinya yang kanan sampai kedua mata kakinya tiga kali kemudian membasuh yang kiri seperti itu juga. Kemudian mengatakan : Saya melihat Rosululloh SAW (biasa) berwudhu seperti wudhuku ini lalu Rosululloh bersabda : Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini kemudian berdiri dan ruku’ dua kali dengan sikap tulus ikhlas, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Ibnu Syihab berkata : “ Adalah ulama’-ulama’ kita menegaskan, ini adalah cara wudhu yang PALING SEMPURNA yang [seharusnya] dipraktikkan setiap orang untuk sholat” [8] 

4.   Syarat-syarat Sahnya Wudhu’

1.   Niat, berdasarkan Sabda Nabi r :

إِنَّمَاالأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ

            Sesungguhnya segala amal hanyalah tergantung pada niatnya[9]

 

Keterangan :

Tidak pernah disyariatkan melafadzkan niat karena tidak ada dalil yang shahih dari Nabi r yang menganjurkannnya.

2.   Mengucapkan Basmalah, karena ada hadits Nabi r :

لاَصَلاَةَ لِمَنْ لاَوُضُوْءَ لَهُ وَلاَوُضُوْءَ لِِمَنْ لَمْ يَذْكُرِاسْمَ اللهِ عَلَيْهِ

            Tidak sah sholat bagi orang yang tidak berwudhu (sebelumnya) dan tidak sah wudhu bagi orang yang tidak menyebut, Bismillah (sebelumnya)[10]

Keterangan :

    Disamping itu, ada dua riwayat lain yang menerangkan bahwa Rosululloh r bersabda :توضؤوا ببسم الله  [Berwudhu dengan (menyebut) nama Alloh.Lihat Nasa’i, kitab Thaharah no:61 bab : Mengucapkan basmalah ketika akan berwudhu, dan Musnad Imam Ahmad III : 165.

3.    Muwalah [Berturut-turut] tidak diselingi oleh pekerjaan lain,

Berdasarkan hadits Khalid bin Ma’dan :

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم رَأَى رَجُلاً يُصَلِّى وَفِى ظُهْرِ قَدَمِهِ لُمْعَةُ قَدْرِ الدِّرْهَمِ لِمَ يُصِبْهَا الْمَاءُ : فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَنْ يُعِيْدَ الوُضُوْءَ وَالصَّلاَةَ

            Bahwa Nabi r pernah melihat seorang laki-laki tengah mengerjakan sholat, sedang dipunggung kakinya ada sebesar uang dirham yang tidak tersentuh air wudhu, maka Nabi SAW menyuruhnya agar mengulangi wudhu dan sholatnya [11]

 

5. Hal-hal Yang Fardhu/Najis Dalam Wudhu’ :

1.    Membasuh wajah termasuk berkumur-kumur dan membersihkan hidung

2.    Mencuci kedua tangan sampai siku-siku

3.    Mengusap seluruh kepala, dan kedua telinga termasuk bagian dari kepala

4.        Membasuh kedua kaki hingga kedua mata kaki hal ini sesuai dengan firman Alloh dalam QS. Al Maidah : 6 [lihat perintah berwudhu/tayammmum sebelum sholat]

 

Adapun berkumur-kumur dan istinsyaq [memasukkan air kedalam hidung] termasuk bagian dari muka sehingga wajib dilakukan karena Alloh Ta’ala telah memerintahkan di dalam kitabNya yang mulia membasuh muka. Disamping itu, telah sah dari Nabi r, beliau telah terus menerus melakukan kumur dan istinsyaq setiap kali berwudhu. Sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh seluruh sahabatnya yang meriwayatkan dan menerangkan tata cara wudhu Nabi r, sehingga secara keseluruhan menunjukkan bahwa membasuh wajah yang diperintahkan di dalam Al Qur’an meliputi berkumur-kumur dan istinsyaq (As-Sailal Jarrar I :81)

Lagi pula ada sabda Nabi r yang memerintah berkumur-kumur dan istinsyaq memasukkan air ke dalam hidung)

إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَجْعَلْ فِى نَفِهِ مَاءً ثُمَّ لَيَسْتَنْشِرْ

Apabila seorang diantara kamu berwudhu, maka masukkanlah air ke dalam hidungnya, lalu keluarkanlah ! [12]

            Dan sabda Beliau r yang lain :

وَبَالِغْ فِى الإِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ صَائِمًا

Bersungguh-sungguhlah dalam melakukan istinsyaq, kecuali sedang berpuasa[13]

            Dalam hadits yang lain, Beliau r bersabda juga :

إِذَا تَوَضَّأْتَ فَمَضْمِضْ

Apabila kamu berwudhu’, maka hendaklah berkumur-kumur [14]

            Adapun tentang wajibnya mengusap kepala, yaitu karena perintah mengusap kepala di dalam Al Qur’an bersifat mujmal (global), maka bayan (penjelasannya) dikembalikan kepada sunnah Nabi r. Sudah tegas didalam riwayat Bukhori, Muslim dan selain keduanya bahwa nabi r mengusap seluruh kepalanya. Dan dalam hal ini terdapat dalil yang tegas yang menunjukkan wajibnya mengusap seluruh kepala secara sempurna.

          Jika ada yang berpendapat, bahwa ada riwayat yang shahih dari Al Mughirah, bahwa Nabi pernah mengusap ubun-ubunnya dan diatas surbannya ?

          Maka jawabannya : Rasulullah r mencukupkan mengusap diatas ubun-ubunnya, karena beliau menyempurnakan dengan mengusap sisa kepalanya diatas surbannya. Dan Syaikh ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi Al-Khalafi – Penyusun Kitab Al Wajiz – berpendapat demikian dan didalam kitab Al Mughirah tersebut tidak terdapat syarat yang menunjukkan bolehnya mengusap hanya diatas ubun-ubun saja atau sebagian kepala saja tanpa menyempurnakan di atas surbannya [Lihat Tafsir Ibnu Katsir II:24 dengan sedikit perubahan redaksi]

          Wal hasil, wajib mengusap kepala. Pengusap kepala jika mau boleh, mengusap diatas kepala saja atau diatas surban saja atau diatas kepala dan dilanjutkan diatas surban, ketiga cara tersebut shahih dan kuat (pernah dilakukan oleh Nabi r)

          Adapun perihal dua telinga termasuk bagian dari kepala sehingga wajib pula diusap berdasarkan pada sabda Nabi r :

الأُذُنَانِ مِنَ الرَّأْسِ

            Dua telinga termasuk kepala[15]

Menyela-nyelakan air pada jenggot

عَنْ أَنَسْ بِنْ مَالِكِ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا تَوَضَّأَ أَخَذَ كَفَّامِنْ مَاءٍ فَأَدْخَلَهُ تَحْتَ حَنْكِهِ فَخَلَّلَ بِهِ لِحْيَتَهُ وَقَالَ : هَكَذَا أَمَرَنِيْ رَبِّيْ عَزَّ وَجَلَّ

            Dari Anas bin Malik r.a bahwa Rosululloh r apabila berwudhu, mengambil segenggam air, lalu memasukkannya kebelakang dagu, kemudian menyela-nyelakan diantara jenggotnya, seraya bersabda, “ Beginilah yang Rabbku Azza Wa Jalla perintahkan kepadaku” [16]

 Menyela-nyela air pada jari-jemari tangan dan kaki .

Sebagaimana yang ditegaskan dibawah ini :

قَوْلُهُ صلى الله عليه وسلم : أَسْبِغِ اْلوُضُوْءَ، وَخَلِّلْ بَيْنَ الأَصَابِعِ، وَبَالِغْ فِى الإِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ صَائِمًا       

      Rosululloh r, sempurnakanlah wudhu’ dan sela-selakanlah [air] di antara jari-jemari dan bersungguh-sungguhlah dalam melakukan intinsyaq kecuali kamu dalam keadaan puasa[17]

 

6. Sunnah-sunnah Wudhu’ : [Hal-hal Yang Disunnahkan Ketika Berwudhu’]

a.    Siwak sebagaimana yang diriwayatkan

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم : لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ وُضُوْءٍ

          Dari Abu Hurairah t bahwa Rasulullah r bersabda : Kalaulah sekiranya aku tidak [khawatir] akan memberatkan umatku, niscaya kuperintahkan mereka bersiwak setiap kali wudhu’[18]

b.        Mencuci kedua telapak tangan tiga kali pada awal wudhu’ sebagaimana yang telah diriwayatkan dari Utsman bin Affan r.a yang mengisahkan wudhu’ Nabi r dimana dia membasuh kedua telapak tangannya tiga kali[Lihat masalah tata cara Wudhu pada halaman sebelumnya]

c.    Kumur-kumur dan intinsyaq sekaligus, tiga kali :

عَنْ عَبْدِ اللهِ بِنْ زَيْدٍ رضي الله عنه فِى تَعْلِيْمِهِ لِوُضُوْءِ رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ مِنْ كَفٍّ وَاحِدَةٍ فَفَعَلَ ذَلِكَ ثَلاَثًا

Dari Abdulloh bin Zaid t tentang dia mengajarkan [tata cara] wudhu’ Rosululloh SAW, dimana dia berkumur-kumur dan intinsyaq dari satu telapak tangan. Dia berbuat demikian [sebanyak] tiga kali[19]Bersungguh-sungguh dalam berkumur-kumur dan istinsyaq : kecuali bagi orang yang berpuasa, berdasarkan Nabi r :

Bersungguh-sungguhlah dalam melakukan intinsyaq kecuali kamu dalam keadaan puasa [20]

d.    Mendahulukan anggota wudhu’ yang kanan daripada yang kiri karena ada hadits Aisyah r.a. yang mengatakan :

كَانَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم يُحِبُّ التَّيَامُنَ فِى تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُوْرِهِ وَفِى شَأْنِهِ كُلِّهِ

          Adalah Rasulullah r mencintai mendahulukan anggota yang  kanan dalam hal mengenakan alas kaki, menyisir, bersuci, dan dalam seluruh ihwalnya [21]

          Disamping itu hadits Ustman t yang menceritakan tata cara wudhu’ Nabi r dimana dia membasuh anggota yang kanan, lalu yang kiri.

4.    Menggosok karena ada hadits Abdulloh bin Zaid yang mengatakan :

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أُتِيَ بِثُلُثِي مُدٍّ فَتَوَضَّأَ فَجَعَلَ يَدْلُكُ ذِرَاعَيْهِ

          Bahwa Nabi r pernah dibawakan 2/3 mud (air), kemudian beliau berwudhu, maka beliaupun menggosok kedua hastanya[22]

 Membasuh tiga kali, tiga kali, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Utsman bin Affan t (pada awal pembahasan wudhu) bahwa Nabi berwudhu tiga kali, tiga kali, namun ada juga riwayat yang sah yang mengatakan :

أَنَّهُّ صلى الله عليه وسلم تَوَضَّأَ مَرَّةً مَرَّةًوَمَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ

          Bahwa Nabi r pernah berwudhu satu kali-satukali dan dua kali-kali [23]

          Dianjurkan pula kadang-kadang mengusap kepala lebih dari sekali (tiga kali) karena ada riwayat :

عَنْ عُثْمَانَ أَنَّهُ تَوَضَّأَ فَمَسَحَ رَأْسَهُ ثَلاَثًا وَقَالَ : رَأَيْتُ رَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلم تَوَضَّأَ هَكَذَا

          Dari Utsman bin Affan t bahwa ia pernah mengusap kepalanya tiga kali seraya berkata, : Saya pernah melihat Rasulullah SAW berwudhu (dengan mengusap kepala) begini [24]

 Tertib, karena kebanyakan cara wudhu’ Rasulullah r selalu dengan tertib sebagaimana yang telah disampaikan sejumlah sabahat yang meriwayatkan wudhu’ beliau r. Akan tetapi, ada riwayat yang sah dari al-Miqdam bin Ma’dikariba ia berkata :

أَنَّهُ أُتِيَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم بِوُضُوْءٍ فَتَوَضَّأَ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلاَثًا وَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا ثُمَّ غَسَلَ ذِرَاعَيْهِ ثَلاَثًا ثَلاَثًا ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ ثَلاَثًا ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ وَأُذُنَيْهِ

Bahwa Rasulullah SAW pernah dibawakan air wudhu, lalu beliau berwudhu membasuh kedua telapak tangannya tiga kali dan membasuh wajahnya tiga kali, kemudian membasuh kedua hastanya tiga kali, kemudian berkumur-kumur dan mengeluarkan air yang telah dimasukkan ke dalam hidung tiga kali, kemudian mengusap kepalanya dan dua telinganya [25]

 Berdo’a sesudah wudhu’. Sebagaimana yang dijelaskan dalam sabda Nabi r berikut :

مَامِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأَ فَيُسْبِغُ الْوُضُوْءَ ثُمَّ يَقُوْلُ أَشْهَدُ أَنْ لاَّإِلَهَ إِلاَّ الله ُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ إِلاَّ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةَ يَدْ خُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ

Tak seorangpun diantara kalian yang berwudhu’ dengan sempurna lalu mengucapkan (doa) ‘ ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAHU WAHDAHUU LAA SARIIKA LAH, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASUULUH [ Aku bersaksi bahwa tiada ilah (yang patut diibadahi) kecuali Alloh semata tiada sekutu bagi-Nya ; dan aku bersaksi, bahwa Muhammad hamba dan Rosul-Nya] melainkan pasti dibukalah baginya pintu-pintu surga yang delapan, ia boleh masuk dari pintu mana saja yang dikehendakinya [26]

     Kemudian Imam Tirmidzi menambahkan :

أَللَّهُمَّ اجْعَلْنِى مِنَ التَّوَابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

ALLAAHUMMAJ ‘ALNII MINAT TAWWAABIINA WAJ’ALNII MINAL MUTATHAHIRIIN [Ya, Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang tekun bertaubat dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang rajin bersuci][27]

5.    Dan dari  Abu Sa’id al-Khudri t bahwasannya Nabi r bersabda :

       “ Barangsiapa berwudhu lalu berdo’a :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّاِلَهَ اِلاَّ أََنْتَ أًَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

            Maha suci Engkau ya Alloh dan segala puji bagi-Mu aku bersaksi bahwasannya tiada sesembahan yang sebenarnya kecuali Engkau, aku mohon ampunan dan bertaubat pada-Mu Niscaya dicatat pada sebuah lembaran kemudian dicetak dengan sebuah cetakan lalu tidak dipecahkan hingga hari kiamat [28]

Catatan :

            Tidak ada hadits shahih mengenai do’a (bacaan-bacaan) ketika sedang berwudhu’

6.    Shalat dua rakaat sesudah wudhu’

            Hal ini didasarkan pada pernyataan Utsman bin Affan t sesudah mengajar sahabat yang lain tentang wudhunya Nabi r    

رَأَيْتُ رَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلم تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوْئِيْ هَذَا ثُمَّ قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَوُضُوْئِى هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لاَيُحَدِّثُ فِيْهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Saya melihat Rasulullah r (biasa) berwudhu seperti wudhuku ini lalu Rosululloh bersabda : Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini kemudian berdiri dan ruku’ dua kali dengan sikap tulus ikhlas, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu[29]

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ لِبِلاَلٍ عِنْدَ صَلاَةِ الْفَجْرِ : يَابِلاَلُ أَخْبِرْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِى الإِسْلاَمِ فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِى الْجَنَّةِ قَالَ مَاعَمِلْتُ عَمَلاً أَرْجَى عِنْدِي أَنِّيْ لَمْ أَطْهُرْ طَهُوْرًا فِى سَاعَةٍ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُوْرِ مَاكُتِبَ لِيْ أَنْ أُصَلِّيَ

          Dari Abu Hurairah r.a bahwa Nabi r bertanya kepada Bilal usai sholat subuh, “ Ya Bilal, beritahukan kepadaku suatu amal yang paling memberi harapan yang engkau kerjakan dalam Islam karena sesungguhnya aku mendengar suara kedua alas kakimu dihadapanku disurga ? “ Jawabnya : “ Tidak ada amalan yang lebih kuharapkan [kecuali] bahwa setiap kali aku selesai bersuci baik pada waktu malam ataupun siang pasti aku selalu shalat seberapa kemampuanku untuk sholat” [30]

7. Hal-hal Yang Membatalkan Wudhu’

    1. Apa saja yang keluar dari kemaluan dan dubur, berupa kencing, berak, atau kentut.

Allah U berfirman :

÷rr&uä!%y`Ӊtnr&Nä3YÏiBz`ÏiBÅÝͬ!$tóø9$#ÇÏÈ           

Atau kembali dari tempat buang air ..{Al Maidah : 6}

                Dan Nabi r bersabda :

لاَيَقْبَلُ الله ُ صَلاَةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ فَقَالَ : رَجُلٌ مِنْ حَضْرَمَوْتَ مَاالْحَدَثُ يَا أَبَاهُرَيْرَةَ قَالَ فُسَاءٌ أَوْ ضُرَاطٌ

            Alloh tidak akan menerima sholat seseorang diantara kamu yang berhadats sampai ia berwudhu [sebelumnya]. Maka seorang sahabat dari negeri Hadramaut bertanya : “ Apa yang dimaksud hadats itu wahai Abu Hurairah ? “ Jawabnya, “ Kentut lirih maupun kentut keras [31]

            Demikian pula madzi dan wadi : membatalkan wudhu’,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنه قَالَ : اَلْمَنِيُّ وَالْوَدِيُّ والْمَذِيُّ أَمَّاَالْمَنِيُّ فَهُوَ الَّذِيْ مِنْهُ الْغُسْلُ، وَأَمَّاالوَدِيُّ وَالْمَذِيُ فَقَالَ : إِغْسِلْ ذَكَرَكَ أَوْمَذَاكِيْرَكَ وَتَوَضَّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ

            Dari Ibnu Abbas t, ia berkata, “ Mani, wadi, dan madzi [termasuk hadats]. Adapun mani, cara bersuci darinya harus dengan mandi besar. Adapun wadi dan madzi, maka dia berkata, “ Cucilah dzakarmu, kemaluanmu, kemudian berwudhulah sebagaimana kamu berwudhu untuk sholat”[32]

    1. Tidur pulas sampai tidak tersisa sedikitpun kesadarannya, baik dalam keadaan duduk yang mantap diatas tanah ataupun tidak.

Karena ada hadits Shafwan bin Assal, ia berkata :

كَانَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُنَا سَفَرًا أَنْ لاَّنَنْزِعَ خَفَافَنَا ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيَهُنَّ، إِلاَّ مِنْ جَنَابَةٍ، لَكِنْ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ

            Adalah Rasulullah t pernah menyuruh kami, apabila kami melakukan safar agar tidak melepaskan khuf kami [selama] tiga hari tiga malam, kecuali karena janabat akan tetapi [kalau] karena buang air besar atau kecil ataupun karena tidur [pulas maka cukup berwudhu][33]

            Pada hadits ini Nabi r menyamakan antara tidur nyenyak dengan kencing dan berak [sebagai pembatal wudhu]

عَنْ عَلِّى رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم : اَلْعَيْنُ وَكَاءُ السَّهِ فَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ

            Dari Ali t bahwa Rasulullah r bersabda : “ Mata adalah pengawas dubur-dubur ; maka barangsiapa yang tidur [nyenyak], hendaklah berwudhu’ [34]

            Yang dimaksud kata al-wika’ ialah benang atau tali yang digunakan untuk menggantung peta.

          Sedangkan kata “as-sah”(السه )artinya : ‘dubur’ maksudnya ‘yaqzhah’ [jaga, tidak tidur] adalah penjaga apa yang bisa keluar dari dubur, karena selama mata terbuka maka pasti yang bersangkutan merasakan apa yang keluar dari duburnya [35]

    1. Hilangnya kesadaran akal karena mabuk atau sakit. Karena kacaunya pikiran disebabkan dua hal ini jauh lebih berat daripada hilangnya kesadaran karena tidur nyenyak.
    2. Memegang kemaluan tanpa alas karena dorongan syahwat, berdasarkan sabda Nabi r :

مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ

            Barangsiapa yang memegang kemaluannya, maka hendaklah berwudhu’[36]

Keterangan :

          Dalam masalah ini memang ada juga hadits :

وعن طلق بن علي رضي الله عنه قال : قال رجل مست ذكري اوقال : الرجل يمس ذكره فى الصلاة ، اعليه الوضوء ؟ فقال النبي صلى الله عليه وسلم لا إنماهو بضعة منك (اخرجه الخمسة وصححه إبن حبان)

          Dari Thalq bin Ali t berkata : ada seorang laki-laki yang berkata : aku telah menyentuh kemaluanku, atau seseorang menyentuh kemaluannya diwaktu sholat apakah ia wajib wudhu ? Maka Nabi r bersabda : Tidak, karena ia [kemaluan] bagian dari tubuhmu.

          Menurut hemat penulis, untuk mengkompromikan dua hadits yang sepertinya bertentangan diatas  bisa disimpulkan sebagai berikut :

  1. Jika seseorang menyentuh kemaluannya atas dorongan syahwat/ada niat untuk merangsangnya, maka batallah wudhu’nya, akan tetapi ;
  2. Jika seseorang menyentuh kemaluannya BUKAN atas dorongan syahwat/TIDAK ADA niat untuk merangsangnya [gatal misalnya,] maka wudhu’nya tidak batal.

[Lihat juga Tamamul Minnah hal :103]

    1. Makan daging unta sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Bara’ bin ‘Azib t ia berkata : ]

قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم : تَوَضَّئُوا مِنْ لُحُوْمِ الإِبِلِ وَلاَ تَوَضَّئُوْا مِنْ لُحُوْمِ الْغَنَمِ

          Rasulullah t bersabda, Berwudhulah disebabkan [makan] daging unta, namun jangan berwudhu’ disebabkan [makan] daging kambing![37]

عَنْ جَابِرٍ بِنْ سَمْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَّ ىصلى الله عليه وسلم أَ أَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُوْمِ الْغَنَمِ ؟ قَالَ : إِنْ شِئْتَ تَوَضَّأْ وَإِنْ شِئْتَ لاَتَتَوَضَّأْ، قَالَ : أَتَوَضَّأ مِنْ لُحُوْمِ الإِبِلِ ؟ قَالَ : نَعَمْ : تَوَضَّأ مِنْ لُحُوْمِ الإِبِلِ

        Dari Jabir bin Samurah t bahwa ada seorang sahabat bertanya kepada Nabi r, apakah saya harus berwudhu [lagi] disebabkan makan daging kambing ? Jawab beliau : Jika dirimu mau, silahkan berwudhu ; jika tidak, jangan berwudhu [lagi]. Dia bertanya lagi :”Apakah saya harus berwudhu [lagi] disebabkan makan daging unta ? “ Jawab beliau, Ya berwudhulah karena [selesai makan] daging unta “{Shahih Mukhtasar Muslim no: 146dan Muslim I:275 no: 360}

 

8. Hal-hal Yang Karenanya Diwajibkan Berwudhu’

    1. Shalat, karena Allah Y berfirman :

          $pkš‰r¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä #sŒÎ) óOçFôJè% ’n<Î) Ío4qn=¢Á9$# (#qè=Å¡øî$$sù öNä3ydqã_ãr

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu {QS. Al Maidah : 6}

                Selain itu, ada juga sabda Nabi r :

          Allah Y tidak akan menerima sholat [yang dilakukan] tanpa bersuci [sebelumnya] {Shahih : Mukhtashar Muslim no: 104, Muslim 1: 204 no: 224 dan Tirmidzi I:3 no: 1}

2. Thawaf di Baitulllah, berdasarkan sabda Nabi r :

الطَّوَافُ بِاْلبَيْتِ صَلاَةٌ إِلاَّ أَنَّ الله َ أَحَلَّ فِيْهِ الكَلاَمَ

          Thawaf di baitulloh adalah shalat, hanya saja Allah membolehkan berbicara{Shahih : Shahihul Jamius Shaghir no: 3954 dan Tirmidzi II:217 no: 967}

 

9. Hal-hal Yang Didalamnya Dianjurkan Berwudhu’

1.    Berdzikir kepada Allah Y, sebagaimana yang dijelaskan dalam riwayat berikut ini :

عَنْ المُهَاجِرِ بِنْ قُنْفُذٍ أَنَّهُ سَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ يَتَوَضَّأ فَلَمْ يَرَدَّ عَليهِ حَتَّى تَوَضَّأَ فَرَّدَ عَليْهِ وَقَالَ : إِنَّهُ لَمْ يَمْنَعْنِيْ أَنْ أَرُدَّ عَلَيْكَ إِلاَّ أَنِّيْ كَرِهْتُ أَنْ أَذْكُرَ الله َ إِلاَّ عَلَى طَهَارَةٍ

          Dari Al muhajir bin Qunfudz bahwa ia pernah mengucapkan salam kepada Nabi r pada waktu beliau sedang berwudhu’, maka beliau tidak menjawabnya sebelum selesai berwudhu’, setelah wudhu’ beliau menjawabnya seraya bersabda : “ Sesungguhnya tiada yang menghalangiku untuk menjawab salammu, karena aku tidak ingin menyebut [nama] Alloh kecuali dalam keadaan suci{Shahih : Shahih Ibnu Majah no: 280, Ibnu Majah : I 126 no: 350, ‘Aunul Ma’bud I:34 no: 17, Nasa’i I:37 namun bagi Imam Nasa’i tidak ada yang marfu’}

2.    Hendak Tidur, Sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Bara’ bin ‘Azib t, ia berkata :

قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا أَتَيْتَ مَضْجِعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ ثُمَّ قُلِ اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِيْ إِلَيْكَ وَوَجَّهْتُ وَجْهِيْ إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ وَالْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ لاَمَلْجَأَ وَلاَمَنْجَى مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ وَنَبِيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ فَإِنْ مُتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ فَأَنْتَ عَلىَ الْفِطْرَةِ وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَاتَتَكَلَّمُ بِهِ

          Nabi t bersabda, “ Apabila kamu hendak tidur maka berwudhu’lah seperti wudhumu untuk sholat, kemudian berbaringlah diatas lambungmu yang kanan lalu ucapkanlah :      اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِيْ إِلَيْكَ وَوَجَّهْتُ وَجْهِيْ إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ وَالْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ لاَمَلْجَأَ وَلاَمَنْجَى مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ  وَنَبِيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ (Ya Alloh kuserahkan diriku kepadaMu, kuhadapkan wajahku kepada Mu kupasrahkan seluruh urusanku kepada-Mu kusandarkan punggungku kepada-Mu karena cinta dan takut kepada-Mu tiada tempat bersandar dan tiada pula tempat berlari dari-Mu kecuali kepada-Mu [jua] ;Ya Alloh aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus). Maka jika kamu meninggal dunia pada malam itu niscaya kamu meninggal dalam keadaan fitrah, dan jadikanlah do’a ini sebagai penutup perkataanmu{Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari XI: 109 no: 6311 dan Muslim IV:2081 no: 2710}

3.    Orang yang junub, bila hendak makan, minum, tidur, atau hendak mengulangi jima’. :

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ : كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم : إِذَا كَانَ جُنُبًا فَأَرَادَ أَنْ يَأْكُلَ أَوْ يَنَامَ تَوَضَّأَ وُضُوْءَهُ لِلصَّلاَةِ

          Dari Aisyah r.a. ia berkata : Adalah Nabi r apabila junub, lalu bermaksud hendak makan atau hendak tidur, beliau berwudhu’ seperti wudhu’ untuk sholat (Shahih:Mukhtasharu Muslim no: 162, Muslim I:248 no:22 dan 305. Nasa’i I:138, ‘Aunul Ma’bud I: 374 no: 221)

عَنْ عَمَّارِ بِنْ يَاسِرٍ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ رَخَصَ لِلْجُنُبِ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْكُلَ أَوْ يَشْرَبَ أَوْ يَنَامَ أَنْ يَتَوَضَّأَ وُضُوْءَهُ لِلصَّلاَةِ

          Dari Ammar bin Yasir t bahwa Nabi r telah memberi rukhsoh kepada orang yang junub bila ingin makan atau minum atau ingin tidur agar berwudhu’ sebagaimana wudhu’ sebagaimana wudhu’ untuk sholat{Shahih: ‘Aunul Ma’bud I:375 no:222}

عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَاَل : إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَعُوْدَ فَلْيَتَوَضَّأْ

          Dari Abu Sa’id t dari Nabi r beliau bersabda, “Apabila seorang diantara kamu telah selesai berkumpul dengan istrinya, lalu hendak mengulangi maka hendaklah berwudhu’ [sebelumnya]”{Shahih:Shahihul Jami’ush Shaghir no:263. Muslim I:249 no:308. ‘Aunul Ma’bud: 1:371 no:217,9 Tirmidzi 1:94 no:141 Nasa’i I:142, dan Ibnu Majah 1:193 no:587}.

4.    Sebelum mandi wajib atau mandi sunnah :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله عنها قَالَتْ : كَانَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم : إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ يَبْدَأُ فَيَغْسِلُ يَدَيْهِ ثُمَّ يُفْرِغُ بِيَمِيْنِهِ عَلَى شِمَالِهِ فَيَغْسِلُ فَرْجَهُ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ وُضُوْءَهُ لِلصَّلاَةِ

          Dari Aisyah r.a. ia berkata, “ Adalah Rasulullah r apabila mandi janabat, beliau memulai dengan membasuh kedua tangannya kemudian menuangkan [air] dengan tangan kanannya keatas tangan kirinya, lalu membersihkan kemaluannya. Kemudian berwudhu’ seperti wudhu’ untuk sholat”{Shahih: Mukthasar Muslim no:155 dan Muslim 1:253 no:316}

5.    Makan sesuatu yang dipanggang, sebagaimana yang dijelaskan dalam riwayat berikut :

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : تَوَضَّؤُوْا مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ

          Dari Abu Hurairah t, ia berkata, “ Saya mendengar Rasulullah r bersabda, “ Berwudhu’lah kalian karena [makan] sesuatu yang dipanggang”.{Shahih: Mukhtasar Muslim no:147, Muslim I:272 no: 352 dan Nasa’i I:105}

          Kataperintah dalam redaksi hadits diatas bernilai sunnah, karena ada hadits ‘Amr bin Umayyah adh-Dhamri ia berkata ;

رَأَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَحْتَزُّ مِنْ كَتِفِ شَاةٍ فَأَكَلَ مِنْهَا فَدُعِيَ إِلَى الصَّلاَةِ فَقَامَ وَطَرَحَ السِّكِّيْنَ وَصَلَّى وَلَمْ يَتَوَضَّأْ

          Saya pernah melihat Nabi r memotong bahu kambing [yang sedang dipanggang], lalu beliau memakannya kemudian terdengarlah panggilan untuk sholat, maka beliau berdiri dan melepaskan pisaunya, lalu sholat tanpa berwudhu’ lagi{Shahih:Mukhtasar Muslim no:148, Muslim 1:274 no:93 dan 355 dan ini adalah lafadz hadits Muslim, fathul Bari I:311 no:208}

6.    Untuk setiap kali sholat :

عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ رضي الله عنه قَالَ : كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم : يَتَوَضَّأُ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ فَلَمَّا كَانَ يَوْمُ الفَتْحِ تَوَضَّأَ وَمَسَحَ عَلَى خُفْيِهِ وَصَلَّى الصَّلَوَاتِ بِوُضُوْءٍ وَاحِدٍ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ يَارَسُوْلَ اللهِ إِنَّكَ فَعَلْتَ شَيْئًا لَمْ تَكُنْ تَفْعَلُهُ فَقَالَ عَمْدًا فَعَلْتُهُ يَاعُمَرُ

          Dari Buraidah t, katanya, “ Adalah Rasulullah r biasa berwudhu’ setiap akan sholat. Tatkala tiba fathu mekkah, beliau berwudhu’ dengan mengusap diatas khufnya dan mengerjakan sholat-sholat yang wajib dengan sekali wudhu’ saja “. Maka Umar bertanya kepadanya, Ya Rasulullah, sesungguhnya engkau melakukan sesuatu yang belum pernah engkau kerjakan sebelumnya ? “ Jawab Rosululloh, “ Sengaja saya berbuat begitu, wahai Umar”.{Shahih: Mukhtasar Muslim no:142, Muslim I:232 no: 277, ‘Aunul Ma’bud I:292 no:171, Tirmidzi I:42 no:61, Nasa’i :I:86}

7.    Pada setiap kali hadats, karena ada hadits :

عَنْ بُرَيْدَةَ رضي الله عنه قَالَ : أَصْبَحَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم يَوْمًا فَدَعَا بِلاَلاً فَقَالَ : يَابِلاَلُ بِمَا سَبَقْتَنِيْ إِلَى الْجَنَّةِ إِنِّيْ دَخَلْتُ الْبَارِحَةَ الْجَنَّةَ سَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِيْ ؟ فَقَالَ بِلاَلٌ يَارَسُوْلَ اللهِ مَاأَذَّنْتُ قَطٌّ إِلاَّ تَوَضَّأْتُ عِنْدَهُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لِهَذَا.

          Dari Buraidah t. ia mengatakan “ Pada suatu pagi Rasulullah r memanggil Bilal, lalu bertanya [kepadanya], Wahai Bilal, dengan bekal apakah engkau telah mendahului aku masuk kedalam surga, karena tadi malam aku masuk ke surga tiba-tiba mendengar suara gemersikmu dihadapanku ? ‘ Maka jawab Bilal, “ Ya Rasulullah setiap kali usai mengumandangkan adzan mesti aku sholat dua rakaat, dan setiap kali berhadats mesti aku segera berwudhu’ [lagi]’. Maka Rasulullah r bersabda “ Karena itu engkau mendahuluiku”.{Shahih:Shahihul Jami’us Shaghir no:7894 dan Tirmidzi V:282 no:3772}

8.    Karena Muntah:

عَنْ مَعْدَانَ بِنْ أَبِيْ طَلْحَةَ عَنْ أَبِيْ الدَّرْدَاءِ أَنَّ رَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلم قَاءَ فَأَفْطَرَ فَتَوَضَّأَ فَلَقِيْتُ ثَوْبَانَ فِيْ مَسْجِدِ دِمَشْقَ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ : صَدَقَ، أَنَا صَبَبْتُ لَهُ وُضُوْءَهُ

          Dari Ma’dan bin Abu Thalhah dari Abu Darda’ y bahwa Rasulullah r pernah muntah sehingga beliau membatalkan puasanya, lalu berwudhu’ [lagi]. Kemudian pada [suatu hari]. Aku Ma’dan berjumpa dengan Tsauban t di Masjid Damaskus, lalu keu ceritakan hal tersebut kepadanya, maka ia berkata, “ Benar Abu Darda’ itu, dan akulah yang menuangkan air wudhu’nya{Shahihul Isnad: Tamamul Minnah hal :111, Tirmidzi I:58 no:87, ‘Aunul Ma’bud VII:8 no:2364 namun tidak terdapat kata, FATAWADHDHA-A”}

9.    Seusai mengusung jenazah. Ini didasarkan pada sabda Nabi r :

مَنْ غَسَّلَ مَيْتًا فَلْيَغْتَسِلْ، وَمَنْ حَمَلَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ

          Barangsiapa yang telah memandikan mayat, maka mandilah, dan barangsiapa yang telah mengusungnya, maka berwudhu’lah{Shahih:Ahkamul Janaiz hal. 53.al-Fathur Rabbani II:145 no:486, Shahih Ibnu Hibban no 191/751, Baihaqi I:300 dan Tirmidzi II:231 no:998}

 

 

10. MASALAH TAYAMMUM

[Bersuci Dengan Menggunakan Debu]

 

11. Dalil Disyari’atkannya Tayammum 

A. Allah Y berfirman :             

bÎ)ur NçGYä. #ÓyÌó£D ÷rr& 4’n?tã @xÿy™ ÷rr& uä!%y` Ӊtnr& Nä3YÏiB z`ÏiB ÅÝͬ!$tóø9$# ÷rr& ãMçGó¡yJ»s9 uä!$|¡ÏiY9$# öNn=sù (#r߉ÅgrB [ä!$tB (#qßJ£Ju‹tFsù #Y‰‹Ïè|¹ $Y6ÍhŠsÛ (#qßs|¡øB$$sù öNà6Ïdqã_âqÎ/ Nä3ƒÏ‰÷ƒr&ur çm÷YÏiB  …..4 ÇÏÈ

Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. ..{QS. Al Maidah :6}

B. Rasulullah r bersabda :

إِنَّ الصَّعِيْدَ الطَّيِّبَ طَهُوْرُ الْمُسْلِمِ وَإِنْ لَمْ يَجِدِ الْمَاءَ عَشْرَ سِنِيْنَ

      Bahwasannya debu yang bersih adalah sebagai pembersih bagi orang Muslim, walaupun ia tidak mendapatkan air [selama] sepuluh tahun {Shahih:Shahih Abu Dawud no: 322, Tirmidzi I:81 no:124, ‘Aunul Ma’bud I:528 no:329. dan Nasa’i I: 171 dengan lafadz mirip.

 

12. Sebab-sebab Yang Membolehkan Tayammum :

v  Karena tidak ada air

v  Karena sakit ; dikhawatirkan semakin memburuknya kondisi badan yang sakit

v  Karena suhu dingin yang mencapai titik maksimum.

Dalil-dalilnya ;

عَنْ عِمْرَانَ بِنْ حُصَيْنٍ رضي الله عنه قَالَ : كُنَّا مَعَ رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلم فِِيْ سَفَرٍ فَصَلَّى بِالنَّاسِ فَإِذَا هُوَ بِرَجُلٍ مُعْتَزِلٍ، فَقَالَ : مَامَنَعَكَ أَنْ تُصَلِّيَ قَالَ : أَصَابَتْنِيْ جَنَابَةٌ وَلاَ مَاءَ فَقَالَ صلى الله عليه وسلم : عَلَيْكَ بِالصَّعِيْدِ فَإِنَّهُ يَكْفِيْكَ

            Dari Imran bin Hushain tia berkata “ Kami pernah bersama Rasulullah r dalam satu perjalanan, beliau sholat bersama sahabat, ternyata ada seorang sahabat yang mengucilkan diri [dari mereka]. Kemudian Beliau bertanya : ‘ Apakah yang menghalangimu sholat bersama kami ? ‘ Laki-laki itu menjawab : Saya junub dan tidak ada air. Maka Nabi r bersabda, ‘ Hendaklah kamu bertayammum dengan debu karena  sesungguhnya ia cukup bagimu {Muttafaqun ‘alaihi : Fathul Bari I:477 no:344, Muslim I:474 no:682 dan Nasa’i I:171}

عَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ : خَرَجْنَا فِيْ سَفَرٍ فَأَصَابَ رَجُلاً مِنَّا حَجَرٌ فَشَجَّهُ فِي رَأْسِهِ ثُمَّ احْتَلَمَ فَسَأَلَ أَصْحَابَهُ فَقَالَ هَلْ تَجِدُوْنَ لِيْ رُخْصَةً فِى التَّيَمُّمِ ؟ فَقَالُوْا مَانَجِدُ لَكَ رُخْصَةٌ وَاَنْتَ تَقْدِرُ عَلىَ الْمَاءِ فَاغْتَسَلَ فَمَاتَ فَلَمَّا قَدِمْنَا عَلَى رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلم أُخْبِرَ بِذَلِكَ فَقَالَ : قَتَلُوْهُ قَتَلَهُمُ الله ُ أَلاَ سَأَلُواإِذْلَمْ يَعْلَمُوا فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيْهِ أَنْ يَتَيَمَّمُ

            Dari Jabir t, berkata, “ Kami keluar dalam satu perjalanan, lalu seorang diantara kami tertimpa sebuah batu sampai melukai kepalanya kemudian ia mimpi basah lalu bertanya kepada para sahabatnya, ‘ Apakah kalian mendapatkan rukhsah bagiku untuk bertayammun ?’ Maka jawab mereka. ‘Kami tidak mendapatkan rukhsah untukmu, karena engkau mampu menggunakan air’. Kemudian ia mandi besar sehingga meninggal dunia. Kemudian tatkala kami sampai ke hadapan Rasulullah r, hal tersebut diinformasikan, kepada Beliau, maka Beliau r bersabda, “ Mereka telah membunuhnya, maka Alloh akan membunuh mereka. Mengapa mereka tidak bertanya, bila mereka tidak mengetahui. Karena sesungguhnya obat kebodohan hanyalah bertanya, cukuplah baginya hanya dengan tayammum” {Hasan : Shahih Abu Daud no:326 dan ‘Aunul Ma’bud I:532 no:332

عَنْ عَمْرُوبِنْ الْعَاصِ رضي الله عنه أَنَّهُ لَمَّا بُعِثَ غَزْوَةِ ذَاتَ السَّلاَسِلِ قَالَ : احْتَلَمْتُ فِى لَيْلَةِ بَارِدَةٍ شَدِيْدَةٍ البَرْدِ فَأَشِفَقْتُ إِنِ اغْتَسَلْتُ أَنْ أَهْلِكَ فَتَيَمَّمْتُ ثُمَّ صَلَّيْتُ بِأَصْحَابِيْ صَلاَةَ الصًُّبْحَ. فَلَمَّاقَدِمْنَا عَلَى رَسُوْلِ الله ذَكَرُوْا ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ يَاعَمْرُو صَلَّيْتَ بِأَصْحَابِكَ وَأَنْتَ جُنُبٌ ؟ فَقُلْتُ : ذَكَرْتُ قَوْلَ الله تَعالَى (وَلاَ تَقْتُلُوْاأَنْفُسَكُمْ إِنَّ الله َ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا ) فَضَحِكَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم وَلَمْ يَقُلْ شَيْئًا

            Dari Amr bin Ash t bahwa tatkala ia diutus oleh Nabi r dalam peperangan Dzatul Salasil ia bercerita. “ Pada suatu malam yang dingin, yang suhunya mencapai titik maksimum saya ihtilam, lalu saya khawatir jika mandi saya akan celaka, maka aku bertayammum lalu sholat subuh dengan rekan-rekanku. Kemudian tatkala, kami sampai kepada Rasulullah r mereka menceritakan hal tersebut kepada Beliau lalu beliau bersabda “ Ya Amr, apakah engkau sholat bersama rekan-rekanmu dalam keadaan junub ? “ Maka saya jawab, “ Aku ingat firman Allah Y (Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri, karena sesungguhnya Alloh Maha Penyayang kepada kalian). Kemudian aku bertayammum lalu sholat. “ Maka Rasulullah r tersenyum dan tidak berkomentar sedikitpun {Shahih: Shahih Abu Daud no:323, al-fathur Robbani II:191 no: 16, ‘Aunul Ma’bud I:530 no:330 dan Mustadrakul Hakim I:177}

13. Pengertian Sha’id [Debu]

Dalam kamus Lisanul ‘Arab III :254. Ibnul Manzhur menulis sebagai berikut :

Kata sha’id (صعيد  ) berarti tanah. Ada yang berpendapat ia adalah tanah yang baik ada pula yang mengatakan ia adalah setiap debu yang baik. Di dalam Al Qur’an ditegaskan,   فتيمم صعيدا طيبا  maka bertayammumlah dengan debu yang bersih] .  

‘Abu Ishaq menyatakan, Sha’id ialah permukaan tanah, maka orang yang hendak tayamum cukup menepukkan kedua tangannya pada permukaan tanah, dan ia tidak perlu ambil pusing apakah pada permukaan yang dimaksud terdapat debu atau tidak. Karena sha’id bukanlah debu, tetapi ia adalah di permukaan tanah baik berpa debu atau lainnya.

Karena itu, seandainya suatu kawasan seluruhnya berupa padang batu yang tak berdebu kemudian orang yang akan tayammum menepukkan tangannya pada permukaan batu itu, maka yang demikian itu baginya sebagai media pembersih jika dia mengusap wajah dengan tepukan itu.

 

14. Cara Bertayammum

عَنْ عَمَّارِ بِنْ يَاسِرِ رضي الله عنه قَالَ : أَجْنَبْتُ فَلَمْ أُصِبْ مَاءً فَتَمَعَّكْتُ فِى الصَّعِيْدِ وَصَلَّيْتُ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيْكَ هَكَذَا وَضَرَبَ النَّبِيُّ بِكَفَّيْهِ الأَرْضَ وَنَفَخَ فِيْهِمَا، ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ وَكَفَّيْهِ

            Dari Ammar bin Yasir t, ia berkata “ Pada suatu saat aku junub, lalu tidak mendapatkan air, kemudian aku berguling-guling diatas permukaan tanah lalu sholat, setelah itu kusampaikan hal itu kepada Nabi r kemudian Rosululloh r bersabda “ Sebenarnya cukuplah bagimu hanya (berbuat) begini “ Yaitu Nabi r menepukkan kedua telapak tangannya pada permukaan tanah, kemudian meniup keduanya, lalu beliau mengusapkan keduanya pada wajah dan kedua telapak tangannya “ { Muttafaqun ‘alaihi : Fathul Bari I:455 no: 347. Muslim I:280 no: 368 ‘Aunul Ma’bud I:514 no:317 dan Nasa’i I:166}

Kesimpulan :

          Pada prinsipnya tayamummun menduduki porsi wudhu’ maka dihalalkan dengan tayamummun apa saja yang dihalalkan dengan wudhu’ dean boleh tayamum sebelum tibanya waktu sholat sebagaimana halnya boleh berwudhu’ sebelum datangnya waktu sholat. Serta boleh melakukan mengerjakan sholat semampunya sebagaimana, boleh sholat dengan wudhu’ sebanyak rakaat yang dikehendaki.

 

15. Hal-hal Yang Membatalkan Tayammum

Tayammum akan batal dengan :

Ø  Apa-apa yang membatalkan wudhu’

Ø  Adanya air [didapatkannya air]

Ø  Mampu menggunakan air [bagi orang yang awalnya tidak mampu menggunakan air]

Ø  Sedangkan sholat yang telah dikerjakan tetap sah tidak perlu mengulanginya.

Dalil-dalilnya :

عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الخُذْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ : خَرَجَ رَجُلاَنِ فِى سَفَرٍ فَحَضَرَتِ الصَّلاَةُ وَلَيْسَ مَعَهُمَا مَاءٌ، فَتَيَمَّمَا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَصَلَِّيَا، ثُمَّ وَجَدَ المَاءَ فِيْ الوَقْتِ فَأَعَادَ أَحَدُ هُمَا الوُضُوْءَ والصَّلاَةَ وَلَمْ يَعِدِ الأَخَرُ، ثُمَّ أَتَيَا رَسُوْ لَ الله صلى الله عليه وسلم فَذَكَرَا ذَلِكَ لَهُ، قَالَ : لِلَّذِيْ لَمْ يَعِدْ أَصَبْتُ السُّنَّةَ وَأَجْزَأَتْكَ صَلاَتَكَ، وَقَالَ : لِلَّذِيْ تَوَضَّأَ وَأَعَادَ : لَكَ الأَجْرُ مَرَّتَيْنِ

            Dari Abi Sai’d al-khudri t, berkata : Ada dua orang keluar melakukan safar lalu tibalah waktu sholat sementara keduanya tidak membawa air maka mereka bertayamum dengan permukaan tanah yang bersih, lalu sholat. Kemudian pada waktu itu mereka berdua mendapatkan air. Kemudian seorang dari keduanya mengulangi wudhu’ dan sholat, sedangkan yang satunya lagi tidak mengulanginya. Kemudian mereka berdua datang kepada Rasulullah r, lalu menceritakan hal itu kepada Beliau. Maka beliau bersabda kepada orang yang tidak mengulangi [sholatnya], “Engkau telah sesuai dengan sunnah [ku] dan sholatmu telah cukup bagimu. “ Dan kepada orang yang berwudhu’ dan yang mengulangi [sholatnya] Beliau bersabda, “ Engkau mendapatkan dua pahala{Shahih: Shahih Abu Daud no:327, ‘ Aunul Ma’bud I:536 no:334 dan Nasa’i I:213}

 

Kesimpulan :

  1. Luka yang terbalut dengan perban atau tertambalnya tulang karena retak ; gugurlah kewajiban membasuh anggota wudhu’ bahkan tidak harus juga mengusap diatasnya pun tidak juga wajib bertayammum
  2. Gugurnya kewajiban tersebut berdasarkan al-Qur’an dan sunnah Nabi r,[ seseorang tidak terbebani melainkan sesuai dengan kesanggupannya]  sedangkan yang berhak menentukan pengganti dari mengusap diatas anggota wudhu’ atau anggota tayamum yang dibalut atau ditambal hanyalah syara’ sementara syara’ menetapkan segala sesuatu hanya dengan ayat al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW. Padahal keduanya tidak pernah menetapkan pengganti mengusap anggota wudhu’ atau anggota tayamum yang dibalut/diperban, maka tertolaklah pendapat yang mengharuskan membasuh atau mengusapnya [Lihat, al-Muhalla II: 74]

Dalil-dalilnya :

Firman Allah Y:

Ÿwß#Ïk=s3リ!$#$²¡øÿtRžwÎ)$ygyèó™ãr4 …..ÇËÑÏÈ

Allah Y tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.  [QS. Al Baqarah : 286]

Dan Sabda Nabi r :

إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَااسْتَطَعْتُمْ

      Apabila aku memerintahkan kalian [melakukan] sesuatu, maka kerjakanlah semampumu {Shahih : Mukhtasar Muslim no:639. Muslim, II : 975 no: 1337 dan Nasa’i V:110}

16. MANDI BESAR

17. Hal-hal Yang Mewajibkan Mandi :

1.    Keluar mani, baik ketika jaga [terbangun] ataupun ketika [tidur] nyenyak.

Rasulullah r bersabda :

إِنَّمَااْلمَاءُ مِنَ المَاءِ

            Sesungguhnya [mandi] air hanyalah karena [mengeluarkan] air [mani] {Shahih : Mukhtasar Muslim no:151, Muslim I:269 no:343 dan ‘Aunul Ma’bud I:366 no:214}

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ َأَمَّ سُلَيْمٍ قَالَتْ : يَارَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلم، إِنَّ الله لاَيَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ فَهَلْ عَلَى المَرْأَةِ مِنْ غُسْلٍ إِذَا احْتَلَمَتْ ؟ قَالَ نَعَمْ إِذَا رَاَتِ الْمَاءَ

            Dari ummi Salamah bahwa Ummu Sulaim t. bertanya : ‘ Ya Rasululllah, sesungguhnya Alloh tidak malu terhadap terhadap yang haq, maka apakah perempuan [juga] wajib mandi bila mimpi” Jawab Beliau. “ Ya jika ia melihat air [mani] {Muttafaqun ‘alaih : Fathul bari I:228 no:130, Muslim I :251 no:313 dan Tirmidzi I:80 no:122}

            Mengenai keluar air mani diwaktu terbangun [bukan tidur], diisyaratkan harus karena dorongan syahwat. Hal ini merujuk kepada sabda Nabi r :

إِذَا حَذَفْتَ اْلمَاءَ فَاغْتَسِلْ مِنَ الْجَنَابَةِ  وَإِذَا لَمْ تَكُنْ حَذِفًا فَلاَ تَغْتَسِلْ

            Apabila kamu memuncratkan air [mani], maka mandi janabatlah, namun manakala kamu tidak memuncrat [keluar tanpa syahwat], maka janganlah mandi janabat {Sanadnya Hasan Shahih : Irwaul Ghalil I:162, dan al-Fathur Rabbani I:247 no:82}

            Dalam Nailul Authar I:275, Imam asy-Syaukani menegaskan, “Kata alhadzf (الحذف ) kata dasar dari kata kerja hadzafa berarti : melempar, dan perbuatan ini mesti karena dorongan syahwat. Oleh karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan, “ hadits ini mengandung peringatan, bahwa air mani yang keluar bukan karena dorongan syahwat, misalnya, karena sakit atau cuaca sangat dingin. Maka tidak wajib mandi janabat.

          Barangsiapa yang berihtilam [bermimpi basah], namun ternyata ia tidak mendapati air mani, maka tidak harus mandi. Sebaliknya siapa saja yang mendapati air mani, namun ia tidak ingat ihtilam maka ia harus mandi.

عَنْ عَائشَةَ قَالَتْ : سُئِلَ رَسُوْ لُ الله  rعِنِ الرَّجُلِ يَجِدُ البَلَلَ وَلاَيَذِِْكُرُ احْتِلاَمًا .؟ فَقَالَ يَغْتَسِلُ. وَعَنِ الرَّجُلِ يَرَى أَنَّهُ قَدْ احْتَلَمَ وَلاَيَجِدُ البَلَلَ فَقَالَ : لاَغَسْلَ عَلَيْهِ

            Dari Aisyah tia berkata ; “Rasulullah r pernah ditanya tentang seorang laki-laki mendapati [kainnya] basah dan ia tidak ingat ihtilam [bermimpi] ? Maka jawab Beliau “ ia harus mandi”. Kemudian [ditanya lagi] perihal seorang laki-laki yang yakin bahwa dirinya ihtilam namun ternyata ia tidak mendapati basah [pada kainnya] ? Maka jawab Beliau : “ Tidak ada kewajiban mandi diatasnya” {Shahih: Shahih Abu Daud no:216, Tirmidzi I:74 no: 113 ‘Aunul Ma’bud I:399 no:233}

  1. Jima’ sekalipun tidak mengeluarkan sperma :

عَنْ أَبِيْ هُرَيرَةَ عَنِ النَّبِيِّ   r  قَالَ : إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شَعَبِهَا الأَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ اْلغُسْلُ وَإِنْ لَمْ يَنْزِلْ

            Dari Abu Hurairah t dari Nabi r, Beliau bersabda, “ Apabila seseorang duduk di antara empat anggota badan [istrinya], lalu bersungguh-sungguh memperlakukannya [yaitu jima’], maka ia wajib mandi, sekalipun tidak mengeluarkan [air mani] {Shahih : Mukhtasar Muslim no:152 dan Muslim I:271 no:348}

  1. Orang kafir yang baru masuk Islam :

عَنْ قَيْسِ بِنْ عَاصِمٍ أَنَّهُ أَسْلَمَ فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَنَّ يَغْتَسِلَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ

            Dari Qais bin Ashim t bahwa ia masuk Islam, lalu diperintah oleh Nabi r agar mandi dengan menggunakan air yang dicampur dengan daun bidara {Shahih:Irwaul Ghalil no: 128, Nasa’i I:109, Tirmidzi II:58 no:602 dan ‘Aunul Ma’bud II:19 no:351}

  1. Berhentinya darah haidh dan nifas :

عَِنْ عَائشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ لِفَاطِمَةَ بِنْتِ أَبِيْ حُبَيْشٍ إِذَا أَقْبَلَتِ الحَيْضَةُ فَدَعِيَ الصَّلاَةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْتَسِلِى وَصَلِّى

            Dari Aisyah t. bahwa Nabi r bersabda kepada Fatimah binti Abi Hubaisyah t., ‘ Apabila [waktu] haidh datang, maka tinggalkanlah sholat dan apabila [waktu] haidh berakhir, maka mandilah dan sholatlah !” {Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari I:420 no:320, Muslim I:262 no:333. ‘Aunul Ma’bud I:466 no:279. Tirmidzi 1:82 no:125, Nasa’i I:186, dan redaksi mereka, terkecuali Imam Bukhari adalah, ‘Fa aghsi-lii ‘ankid dam’ [maka cucilah darah darimu].

            Adapun status hukum nifas menurut ijma’ ulama’ sama dengan hukum haidh.

18. Rukun Mandi Besar

1. Niat, karena ada hadits :

إِنَّمَاالأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

  Sesungguhnya segala amal perbuatan bergantung pada niatnya {Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari I:9 no:1, Muslim III :1515 no:1907, ‘Aunul Ma’bud VI:284 no:2186, Tirmidzi III:100 no:1698, Ibnu Majah II:1413 no:4227 dan Nasa’i I:59}

2. Menyiramkan air pada sekujur tubuh.

 

19. Tata Cara Mandi Besar Yang Dianjurkan :

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ : كَانَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ يَبْدَأُ فَيَغْسِلُ يَدَيْهِ ثُمَّ يُفْرِغُ بِيَمِيْنِهِ عَلَى شِمَالِهِ فَيَغْسِلُ فَرْجَهُ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ وُضُوْءَهُ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ يَأْخُذُ الْمَاءَ فَيُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي أُصُوْلِ الشَّعْرِ حَتَّى إِذَا رَأَى أَنْ قَدِ اسْتَبْرَأَ حَفَنَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ حَفَنَاتٍ ثُمَّ أَفَاضَ عَلىَ سَائِرِ جَسَدِهِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ

            Dari Aisyah ia berkata : Adalah Rasulullah r apabila mandi janabat memulai dengan mencuci kedua tangannya, kemudian menuangkan [air] dengan tangan kanannya ke atas tangan kirinya, lalu mencuci kemaluannya kemudian berwudhu’ sebagaimana wudhu’nya untuk sholat, kemudian, mengambil air [dengan tangannya], lalu memasukkan jari-jari tangannya ke pangkal rambut hingga apabila ia melihat sudah tersentuh air semua pangkal rambutnya, ia menuangkan air keatas kepalanya 3 kali tuangan dengan kedua tapak tangannya, kemudian menyiram sekujur tubuhnya, lalu membasuh kedua kakinya {Muttafaqun ‘alaih}

Catatan :

Perempuan tidak wajib membuka ikat rambut dan semisalnya ketika akan mandi janabat.

عَِنْ أُمِّ سَلَمَةَ رضي الله عنها قَالَتْ : قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ إِنِّيْ امْرَأَةٌ أَشُدُّ ضَفْرَ رَأْسِي أَفَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ اْلجَنَابَةِ ؟ قَالَ لاَ إِنَّمَا يَكْفِيْكِ أَنْ تَحْثِيَ عَلىَ رَأْسِكِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ ثُمَّ تُفِيْضِيْنَ عَلَيْكِ الْمَاءَ فَتَطْهُرِيْنَ

            Dari Ummi Salamah r.a. ia berkata, saya pernah bertanya : “ Ya Rosululloh sesungguh aku seorang perempuan yang mengikat kuat rambut kepalaku, lalu apakah saya harus membukanya untuk mandi janabat ? “ Jawab Beliau, “ Tidak [harus] cukup bagimu menuangkan [air] diatas kepalamu tiga kali tuangan, kemudian engkau siramkan air ke atas badanmu, dengan demikian kamu menjadi suci  {Shahih: Irwaul Ghalil no:136. Muslim I:259 no:330, ‘ Aunul Ma’bud I:426 no:248, Nasa’i I:131, Tirmidzi I:71 no:105, Ibnu Majah I:198 no:603}

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي الله عنها أَنَّ أَسْمَاءَ سَأَلَتِ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم عَنْ غُسْلِ الْمَحِيْضِ فَقَالَ تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءَهَاوَسِدْرَتَهَافَتُطَهِّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُوْرَ ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتُدْ لُكُهُ دَلْكًا شَدِيْدًا حَتَّى تَبْلُغَ شُؤُونَ رَأْسِهَا ثُمَّ تَصُبُّ عَلَيْهَا الْمَاءَ ثُمَّ تَأْخُذُ فِرْصَةً مُمَسَّكَةً فَتُطَهِّرُ بِهَا فَقَالَتْ أَسْمَاءُ وَكَيْفَ تَطَهَّرُ بِهَا ؟ قَقَالَ سُبْحَانَ الله ِ تَطَهَّرِيْ بِهَا فَقَالَتْ عَائِشَةُ [كَأَنَّهَا تُخْفِيْ ذَلِكَ] تَتَبَّعِيْنَ أَثَرَ الدَّمِ وَسَأَلَتْهُ عَنْ غُسْلِ الْجَنَابَةِ فَقَالَ تَأْخُذُ مَاءً فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُوْرَ أَوْ تُبْلِغُ الطُّهُوْرَ ثُمَّ تَصُبُّ عَلىَ رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ حَتَّى تَبْلُغَ شُؤُونَ رَأْسِهَا ثُمَّ تُفِيْضُ عَلَيْهَا اْلمَاءَ

            Dari Aisyah r.a., bahwa Asma’ pernah bertanya kepada Nabi perihal mandi haidh. Maka jawab Beliau : Hendaklah seorang diantara kamu mengambil air beserta daun bidara, lalu hendaklah ia bercuci dengan sempurna, kemudian tuangkanlah air ke atas kepalanya, lalu gosoklah kepalanya dengan sungguh-sungguh hingga rata, kemudian tuangkanlah lagi air keatas kepalanya, kemudian ambillah sepotong kain atau kapas maka dengan demikian ia menjadi suci. Kemudian Asma’ bertanya, [Wahai Rosululloh] bagaimana ia dianggap suci dengan cara itu ?  Maka jawab Beliau, “ Subhanallah….dengan cara itu ia sudah menjadi suci. Kemudian Aisyah berkata, [sambil membisikkan] ‘[Hai Asma’] kamu harus memperhatikan [menjelajahi] bekas darah, “ Kemudian Asma’ bertanya kepada Beliau perihal mandi janabat, maka jawab Beliau. “ Hendaklah si perempuan itu mengambil air lalu bersuci dengan baik atau dengan sempurna, kemudian tuangkanlah [air] ke atas kepalanya, lalu gosoklah kepalanya sampai rata, kemudian tuangkanlah air ke atasnya {Shahih: Mukhtasar Muslim no: 172, Muslim I:261 no:61 dan 332}

            Dengan sharih [jelas] hadits tersebut membedakan antara mandi haidh dengan mandi junub, dimana ia memberi penekanan kepada orang haidl agar menggosok kepalanya dengan sungguh-sungguh dan bersuci dengan serius  yang tidak ditekankan kepada orang yang mandi janabat, sebagaimana hadits Ummu Salamah sebagai dalil bahwa orang, yang mandi junub tidak wajib menguraikan [melepaskan] ikat rambut atau semisalnya. [Tahdzibul Sunan Abi Daud oleh Ibnul Qoyyim I:167 no:166 dengan sedikit perubahan]

            Pada asalnya, diuraikannya rambut agar yakin akan sampainya air ke pangkal-pangkal rambut, hanya saja hal ini tidak diharuskan kepada orang yang akan mandi janabat, karena mandi ini berulang kali dan akan menimbulkan kesulitan berat bagi kaum wanita. Berbeda jauh dengan mandi haidl yang hanya terjadi sekali dalam sebulan. [Tahdzibul Sunan Abi Daud oleh Ibnul Qoyyim I:167 no:166 dengan sedikit perubahan]


[1]Muttafaqun ‘alaih: Fathul bari X:96 no:5633, Muslim III:1637 no:2067, Tirmidzi III:199 no:1939, ‘Aunul Ma’bud X:189 no:3705 Ibnu Majah II:1130 no:3414, tanpa ada larangan dari mengenakan sutera tebal dan sutera tipis dan Nasa’i VIII:198

[2]Muttafaqun ‘alaihi: Fathul Bari X:96 no:5634, Muslim Muslim III:1634 no: 2065 dan Ibnu Majah II:1130 no:3413

[3]Syaikh Abdul Aziz Muhammad As-Salman, Al Asilah wal Ajwibah Al Fiqhiyah Al Maqrunah bi Al-Adilah Asy-Syar’iyah jilid I

[4]Hasan Li Dzatihi : Diriwayatkan oleh lima periwayatan kecuali Imam Nasa’i} Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Khuzaimah, Tirmidzi, Imam malik, Syafi’i,Ahmad. Lafadz milik Ibnu Syaibah

[5]Shahih : Mukhtasharal Muslim no:104, Muslim I:204 no:224, Tirmidzi I:3 no:1

[6]Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan dinyatakan dhaif [lemah] oleh Abu Hatim

[7]Syaikh Abdul Aziz Muhammad As-Salman, Al Asilah wal Ajwibah Al Fiqhiyah Al Maqrunah bi Al-Adilah Asy-Syar’iyah jilid I

[8]Muttafaq ‘alaihi : Muslim I:204 no. 226, dan ini redaksinya, Fathul Bari I : 226 no :164, ‘Aunul Ma’bud I:180 no:106 dan Nasa’i I : 64

[9]Muttafaqun alaih : Fathul Bari, I:9 no:1, Muslim III:1515 no :1907, Aunul Ma’bud VI : 284 no:2186, Tirmidzi III:100 no:169, Ibnu Majah II:1413 no:4227, Nasa’i I:59

[10] Hadits Hasan : Shohihu Ibnu Majah no:320 ‘Aunul Ma’bud I:174 no:101 dan Ibnu Majah I:140 no:399

[11]Shahih : Shahih Abu Dawud no:161 dan ‘Aunul Ma’bud I:296 no:173

[12]Shahih : Shahihul Jami’us Shagir no: 443, ‘Aunul Ma’bud I:234 no:140 dan Nasa’i I:66

[13]Shahih : Shahih Abu Daud no:129 dan 131, Aunul Ma’bud I:236 no:142 dan 144

[14]Shahih sama dengan diatas

[15]Shahih : Shahih Ibnu Majah no:357 dan Ibnu Majah I:152 no:443

[16]Shahih : Irwaul Ghalil no:92. ‘Aunul Ma’bud I : 243 no:45, dan Baihaqi I:54

[17]Shahih; Shahih Abu Daud no: 129 dan 131 dan ‘Aunul Ma’bud I: 2 36 no: 142 dan 144

[18]Shahih: Shahihul Jammi no: 5316 dan al-Fathur Rabbani I:294 no: 171

[19]Shahih: Mukhtashar Muslim no: 125, dan Muslim I:210 no:235

[20]Shahih; Shahih Abu Daud no: 129 dan 131 dan ‘Aunul Ma’bud I: 2 36 no: 142 dan 144

[21]Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari I:269 no: 168, Muslim I: 226 no:268, Nasa’i I: 78

[22] Sanadnya shahih : Shahih Ibnu Khuzaimah I:62 no: 118

[23] Hasan Shahih : Shahih Abu Dawud no:124. Fathul Bari I:258 no: 158 dari hadits Abdulloh bin Zaid. ‘Aunul Ma’bud I:230 no: 136, Tirmidzi I:31 no:43 dari hadits Abu Hurairah}

[24] Hasan Shahih : Shahih Abu Dawud no: 101 dan Aunul Ma’bud I:188 no: 110

[25]Shahih: Shahih Abu Daud no:112 dan ‘Aunul Ma’bud I:211 no:121

[26]Shahih : Mukhtasharu Muslim No : 143 dan Muslim I : 209 no:234

[27]Shahih: Shahih Tirmidzi no:48 dan Tirmidzi I :38 no. 55

[28]Hadits Shahih, lihat at Targhib no. 220, al-Hakim I/564

[29] Muttafaq ‘alaihi : Muslim I:204 no. 226, dan ini redaksinya, Fathul Bari I : 226 no :164, ‘Aunul Ma’bud I:180 no:106 dan Nasa’i I : 64

[30]Muttafaqun ‘alaih :Fathul Bari III: 34 no: 1149 dan Muslim IV :1910 no: 2458

[31]Muttafaqun ‘alaihi, Fathul Baari I:234 no:135, Baihaqi I:117, Fathur Robbani, Ahmad II: 75: no: 352} Dan asal hadits ini menurut sebagian mukharrij selain yang disebut diatas tidak ada tambahan [tentang pernyataan orang dari Hadramaut itu], Muslim I:204 no: 225, ‘Aunul Ma’bud I:87 no: 60, dan Tirmidzi I: 150 no: 76 

[32]Shahih : Shahih Abu Dawud no:190, dan Baihaqi I: 115

[33]Hasan : Shahih Nasa’i no:123 Nasa’i I:84 dan Tirmidzi I:65 no:69

[34]Hasan : Shahih Ibnu Majah no:386. Ibnu Majah I:161 no: 477 dan ‘Aunul Ma’bud I:347 no:200 dengan redaksi sedikit berlainan

[35]Nailul Authar I:242

[36]Shahih : Shahih Ibnu Majah no:388, ‘Aunul Ma’bud I:507 no: 179, Ibnu Majah I:161 no:479, Nasa’i I:100. Tirmidzi I:55 no: 82 dengan ‘فَلاَ يُصَلِّى ‘ [maka janganlah sholat…] dan sabda Nabir :

هَلْ هُوَ إِلاَّ بِضْعَةٌ مِنْكَ

            Bukankah ia hanyalah bagian dari tubuhmu [Shahih : Shahih Ibnu Majah no:392. Ibnu Majah I:163 no:483, ‘Aunul Ma’bud I:312 no:180 Nasa’i I:101, Tirmidzi I:56 no:85]

[37]Shahih : Shahih Ibnu Majah no:401, Ibnu Majah I:166 no: 494, Tirmidzi I:54 no:81, Aunul Ma’bud I:315 no: 182

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s