Ketika Peluit Menjadi “Ilah”

Ketika Peluit Menjadi "Illah"

Ketika Peluit Menjadi "Illah"

Pukul 03.00 suara adzan pertama terdengar berkumandang sampai ke balik asrama di sebuah pesantren. Namun tak satu pun dari mereka yang terbangun mendengar panggilan tersebut untuk melakukan sholat tahajjud.

Pukul 04.00 suara adzan shubuh pun terdengar berkumandang sebagai tanda kewajiban seorang muslim telah tiba. Namun tidak jauh berbeda dengan panggilan pertama, semua masih terlelap dalam mimpi-mimpi mereka. Tak lama kemudian terlihat dari kejauhan seorang laki-laki mengenakan jubah berwarna putih, peci berwarna putih bersih berjalan menyusuri asrama. Ternyata dialah salah seorang ustadz di bagian kesantrian yang berniat membangunkan para santri dari tidurnya.
Setelah terbangun, semua antri ke kamar mandi untuk bersuci. Namun  mata mereka masih terasa berat untuk dibuka. Akhirnya Satu demi satu santri memasuki serambi masjid lalu melaksanakan sholat sunnah tahiyyatul masjid dan sholat rawatib. Begitu selesai sholat sunnah mereka duduk bersila sambil menunggu kedatangan imam sholat shubuh. Dalam penantian itulah mata mereka terpejam kembali, bahkan kadang terdengar lirih suara dengkuran dari salah seorang dari mereka.
Pukul 04.30 sang imam datang, iqomah pun dikumandangkan pertanda sholat akan segera ditegakkan. Semua berdiri bersama sambil menahan rasa kantuk yang tak kunjung reda. Bacaan imam terdengar mengayun dengan indahnya menambah kekhusyuan sholat, tapi tidak bagi sebgian besar ma’mum pagi itu. Suara indah imam ternyata membuat mereka terlelap dalam kantuk yang semakin dalam.
Pukul 04.45 sholat telah selesai dilaksanakan, saatnya untuk berdzikir. Namun sebagian besar ma’mum masih belum siap untuk membelalakkan mata dan berdo’a meminta kepada sang pencipta. Mereka duduk bersila, dengan mata terpejam dan kepala tertunduk… mereka tertidur kembali.
Pukul 04.50 terdengar pelan suara peluit dari luar masjid. Saat itulah kejadian yang memilukan sekaligus mengherankan terjadi, bersamaan dengan berhentinya suara tersebut, tanpa aba-aba terlebih dahulu, semua santri terbangun dari tidur mereka dan berlari menuju sumber suara. Dan hanya dalam sepuluh hitungan saja semua sudah berdiri berbaris dengan gagahnya, pandangan mereka tajam ke depan, mereka fokus dan konsentrasi, tidak ada lagi rasa kantuk dalam diri mereka, semua hilang begitu saja setelah mendengar suara peluit yang sangat pelan.
Astaghfirullahal ‘adhim..
Ternyata suara peluit yang sangat pelan sanggup mengalahkan rasa kantuk yang mendera mereka, tapi sauara adzan yang berkumandang berulang kali, bacaan imam yang merdu tidak sanggup membangunkan tidur mereka. Sudah separah inikah generasi kita? Sehingga panggilan peluit lebih diutamakan daripada panggilan suci dari Allah rabbul ‘izzati. Benarkah bahwa “Peluit” sudah menjadi “ILAH” ??
Lalu jika yang berada di dalam pesantren sudah seperti ini, bagaimana jadinya dengan mereka yang jauh dari nilai-nilai keislaman. Wal iyadzu billah. Semoga Allah melimpahkan hidayah-Nya kepada kita.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ [٨:٢٤]
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan. (QS.Al-Anfal:24)
 
Ikhwati fillah….
Apa yang menimpa kaum muslimin saat ini sungguh sangat memprihatinkan, bahkan sangat menghawatirkan, karena banyak sekali kaum muslimin yang sedang sakit. Akan tetapi mereka tidak merasa sakit, hal ini disebabkan karena yang terkena penyakit bukanlah jasad mereka melainkan hati mereka. Bahkan hal ini diperparah lagi karena yang terserang adalah aqidah dan keyakinan.
Dan salah satu yang sudah mulai hilang dari kaum muslimin adalah rasa takut kepada Allah  subhanahu wa ta’ala. Padahal rasa takut itu merupakan pembatas antara seorang muslim dengan kemaksiatan. Sebagaimana seorang ulama mengatakan bahwa :
الْخَشْيَةُ هِيَ الَّتِي تَحُوْلُ بَيْنَكَ وَبَيْنَ مَعْصِيَةِ الله
Rasa takut adalah pembatas antara dirimu dan kemaksiatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Sebagai contoh : ketika seseorang mau pulang ke rumah setelah selesai bekerja, namun jalan menuju rumahnya harus melewati sebuah kuburan yang terkenal angker, dan dia memiliki rasa takut, maka perasaan takut itulah yang menyebabkan dia tidak akan berani melewati kuburan itu dan memilih jalan yang lain menuju rumahnya, atau rasa itulah yang menyebabkannya berlari ketika melewati kuburan.
Atau seorang atasan memerintahkan karyawannya untuk bekerja sampai jam 16.00. sebelum itu tidak boleh berhenti untuk pulang atau pun untuk sholat ashar, jika tidak mentaatinya maka karyawan tersebut akan dipecat. Maka karyawan yang takut tidak akan berani melanggar perintah atasannya tersebut karena takut kehilangan pekerjaannya.
Begitu pula seorang pembantu rumah tangga yang dipaksa majikannya untuk melayani nafsu binatangnya dan dikarenakan dia takut kehilangan pekerjaannya, dia tidak berani membantah.
Demikian halnya dengan seorang hamba yang takut kepada Allah, sudah barang tentu dia tidak akan berani melanggar apa yang diperintahkan penciptanya yang telah memberinya nikmat yang tiada terhingga, kesehatan, keluarga, harta yang melimpah dan masih banyak lagi. Sekali-kali dia tidak akan berani melakukan kemaksiatan atau bahkan mendekati kemaksiatan tersebut karena takut kepada ancaman dari Allah subhanahu wa ta’ala.
Takut merupakan naluri manusia yang tidak mungkin dihilangkan. Akan tetapi jika salah menempatkan rasa tersebut, akan berakibat fatal terhadap keimanan kita. Oleh sebab itulah Allah subhanahu wa ta’ala memberi derajat serta kedudukan yang tinggi kepada para ulama, karena hanya merekalah orang yang takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana firman-Nya :

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ [٣٥:٢٨]
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS.Fathir:28)
Rasa takut yang benar merupakan tuntutan seorang muslim. Dan rasa takut kepada Allah lah yang seharusnya dimiliki seorang muslim. Ketika ia takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala maka akan melahirkan keta’atan yang sesungguhnya. Dia tidak akan mengatakan “tidak” terhadap semua yang diperintahkan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Tapi justru sebaliknya dia akan mengatakan kami mendengar dan kami patuh. Allah berfirman :
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [٢٤:٥١]
Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. An-Nur:51)
Hanya saja untuk menempatkan rasa takut yang benar memerlukan ilmu yang benar. Dan kepada para ulama lah seharusnya kita menimba ilmu tersebut. Agar kita tidak semakin jauh tersesat dari jalan yang benar.
Sudah sepantasnya kita selalu membenahi iman kita dengan aqidah yang benar, jauh dari segala syubuhat dan bid’ah yang mencampurinya. Allah lah yang seharusnya kita taati. Dialah yang berkuasa atas hidup dan mati kita bukan atasan kita, bukan pula majikan kita, istri dan suami kita, harta dan kekayaan kita, dan bukan pula peluit yang akan memberi kita nikmat atau pun adzab. Tapi Allah yang berkuasa atas segalanya.
Mari kita penuhi panggilan Allah subhanahu wa ta’ala tanpa berat hati karena itu menunjukkan bahwa kita memiliki rasa takut kepada-Nya. Dahulukanlah panggilan-Nya sebelum panggilan yang lain termasuk panggilan peluit!!  Agar kita terhindar dari musibah terbesar di dunia dan akhirat yaitu musibah “SYIRIK”, sesungguhnya syirik adalah kezalimam yang besar. Raihlah ilmu “DIN” sebanyak-banyaknya agar kita manjadi ulama dan tahu hakikat “Khosyah” yang benar. Wallohu a’lam bisshowab.

By. Afis.qom

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s